.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Benteng Permukiman Koncu

Sabtu, 21 Mei 2016

Administrator

Islam

Dibaca: 370 kali

Seseungguhnya jika melihat komponen bangunan benteng pertahanan yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia (seperti di Sulawesi Selatan), memiliki unsur bangunan lain seperti bastion, barak-barak atau pun tempat penyimpanan logistik, dan lain-lain. Gambaran benteng seperti itu tidak ditemukan di Koncu (yang disebut benteng Wabula). Yang ada hanyalah sebuah bangunan dari susunan batu-batu karang dengan makam kuno, serta bekas lokasi istana (bahasa lokal = galampa). Dengan demikian, bangunan di Koncu, Wabula hanya dapat dikategorikan sebagai tempat permukiman dari penguasa yang wilayah permukimannya dibatasi oleh susunan batu karang.Bangunan itu sendiri memperlihatkan artifisial (sengaja dibuat) yang seluruh bahan batuannya diperoleh dari daerah sekitarnya, karena memang kondisi geografis benteng itu memiliki sumber batuan yang cukup memadai.

Untukmencapai lokasi penelitian dari Kota Bau-Bau dengan menggunakan kendaraan roda empat menempuh perjalanan 75 km melalui jalan darat dengan kondisi jalan yang cukup bagus sehingga transportasi lebih lancar hingga mencapai desa Wabula.Dari desa Wasuemba perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menanjak melalui jalan-jalan perkampungan di antara pohon-pohon di dalam hutan. Tidak sedikit harus melalui pendakian yang cukup terjal dengan jarak dari perkampungan sekitar 6 km dengan lama waktu pendakian 3 – 3,5 jam.

Di puncak gunung dengan ketinggian 325 meter di atas permukaan laut terdapat bekas permukiman raja pertama yang bernama Wa Kaa Kaa.Wilayah permukimannya dibatasi dengan susunan batu karang dengan lebar bagian atas100 cm yang mengelilingi lokasi permukiman. Struktur bangunansusunan batu karang yang oleh masyarakatdisebut Benteng Koncu itu, merupakan bentukbangunan dari susunan batu yang tiap sisinya memiliki ukuran tinggi yang berbeda yang disesuaikan dengan kontur tanah,sedangkan pada sisi utara dan selatan bentuknya berkelok mengikuti kontur permukaan tanah sehingga kedua sisinya tidak simetris.Pada bagian-bagian tertentu, dimana di sisi itu terdapat tebing yang curam, maka tidak diberi dinding dari susunan batu, namun pada bagian-bagian tertentu yang tidak terdapat tebing, maka dibangun susunan batu karang.Bangunan tersebut menurut informasi masyarakat merupakan suatu bangunan yang dimanfaatkan sebagai batas lokasi aktivitas permukiman Wa Kaa Kaa beserta penjaganya.Untuk masuk ke dalam benteng terdapat satu pintu masuk (istilah lokal =Lawa) yang terletak diantara dinding sisi timur dan utara benteng yang disebut Lawa Lakedo. Sebelah timur benteng tidak ditemukan susunan batu kecuali tebing yang terjal sekitar 60 meter.

Benteng Koncu merupakan benteng permukiman dibangun menggunakan bahan dasar dominan batu karang,dengan campuran sedikit batu gamping.Tinggi dinding benteng bervariasi antar 300 - 500 cm. Dinding dibangun dengan bentuk agak regtangular,bagian dasar lebih tebal dari bagian permukaan atas.Dasar dinding benteng memiliki ketebalan 310 cm,sedangkan permukaan atas hanya 150 - 200 cm.

Benteng Koncu adalah perkampungan pertama di Wabula.Di dalam kompleks benteng permukiman diperkirakan sebagai lokasi hunian bagi kalangan terbatas, seperti Wa Kaa Kaa dan kerabatnya yang populasinya tidak terlalu padat.Hal ini diindikasikan oleh permukaan tanah yang bergelombang.Permukaan tanah hanya terdapat pada makam kuno[1].Di sekitarnya menurut infoman kami, sebagai bekas lokasi istana.Lokasi selain itu memiliki permukaan tanah yang bergelombang, sehingga kecil kemungkinan pernah didirikan bangunan, karena dalam pendirian suatu bangunan selalu diutamakan kondisi permukaan tanah yang datar.Selain permukaan tanah dengan kontur bergelombang, juga banyak dipadati dengan batu-batu karang yang agak runcing.Survei yang dilakukan di sekitarnya juga tidak ditemukan benda-benda reliks (fragmen gerabah dan keramik) yang merupakan salah satu indikasi permukiman manusia masa lampau.Untuk menunjang fungsinya, kompleks dilengkapi dengan sumur To Barani terletakdi sisi timur diluar benteng.

Pusat situs benteng berada tepat pada posisi geografis 050 37’ 07,1” LS – 1220 49’ 30,4” BT dengan ketinggian 325 meter di atas permukaan laut. Ditemukan makam yang dipercaya sebagai makam Wa Kaakaa, yang bangunan dasarnya telah diberi keramik dan dilindungi oleh bangunan beratap seng.Bagian permukaan yang disebut makam Wa Kaakaa itu terdapat batu gamping berbentuk oval, yang di atasnya ada beberapa benda organik sebagai perlakukan para peziarahnya.Berdasarkan keyakinannya, maka setiap bulan Juli masyarakat mengadakan upacara adat disekitar makam kuna tersebut.

Informan kami juga menyebutkan bahwa di dekat bangunan yang disebut makam Wa Kaa Kaa pernah berdiri istana (bahasa lokal = galampa) dari raja I. Lokasi bekas istana di dalam Benteng Koncu terletak di sebelah barat pada suatu permukaan tanah yang cukup rata dibandingkan dengan permukaan tanah di sekitarnya. Letak bekas istana tersebutberbeda dengan struktur kota Islam di Indonesia,seperti di Yogyakarta,Banten,dan Luwu(Palopo).Di banyak kota Islam di Indonesia, istana berada di sebelah selatannya,menghadapi alun-alun di sebelah utaranya.Istana di dalam Benteng Koncu tanpa alun-alun.

Di lokasi yang ditunjuk sebagai bekas lokasi istana, tidak ditemukan lagi tanda-tanda berupa umpak.Masyarakat sekarang hanya mendirikan satu bangunan kayu bertiang sebagai kenangan terhadap istana tersebut.Bangunan kayu bertiang yangdibangun tersebut berfungsi sebagai tempat melakukan aktivitas ritual pada waktu-waktu tertentu.

Di dalam lokasi Benteng Koncu juga terdapat batu alam (fitur) yang letaknya berdampingan dan dibatasi lorong kecil yang dilalui untuk menuju bagian dalam benteng.Menurut informasi masyarakat bahwa lokasi itu merupakan tempat perjanjian.Batu perjanjian yang ada di Benteng Koncu, merupakan bentuk budaya materi yang diperuntukkan bagi masyarakat yang melanggar hukum adat.Di batu tersebut terdapat goresan-goresan yang pada umumnya vertikal dengan ukuran rata-rataberukuran panjang 10 cm. Informan kami yang ikut dalam survei menyebutkan bahwa pemutusan perkara dilakukan di tempat tersebut dan sanksi yangterberat yaitu dengan cara diikat kemudian dibuang hidup-hidup ke laut.Hukuman seperti itu berlaku pada masa praislam. Perlakukan sanksi seperti itu hampir sama dengan yang terjadi di daerah Tammejarra Mandar, Sulawesi Barat dan di Jera Pallette, Bone, Sulawesi Selatan.

Temuan lain berupa susunan batu yang berbentuk lingkarandan di tengahnya terdapat batu yang membatasi sebuah lubang sedalam 60 cm, terletak di sebelah barat dari makam Wa Kaa Kaa. Lingkaran batu yang tersusun dari batu gamping itu, mengingatkan kita akan bentuk temu gelang yang banyak terdapat di situs-situs megalitik di Indonesia terutama di Soppeng Sulawesi Selatan.

Meskipun masyarakat tidak dapat memaknainya secara jelas, namun dengan melihat bentuknya dan posisi keletakannya di areal yang sakral di puncak gunung, sehingga diperkirakan bentuk itu sebagai simbol mikrokosmis (dunia manusia). Di daerah lain seperti Bantaeng dan Bulukumba (Sulawesi Selatan), bentuk semacam itu selalu dimaknai sebagai pusat dunia (bahasa Bugis = pocci tana, pocci butta). Pengetahuan manusia ketika itu dalam membaca alam senantiasa menafsirkan suatu gejala alam yang berimplikasi pada penetapan suatu lokasi yang selanjutnya diklaim sebagai pusat bumi penduduk lokal.Terlebih lagi wilayah Koncu merupakan wilayah perkampungan tertua di Wabula dan tempat awal Pemerintahan Wa Kaa Kaa.

Selain itu juga terdapat batu tegak dari batu gamping yang belum diproses, sebagai tempat  upacara ritual bagi warga yang hendak menghadapi peperangan sebagaimana halnya yang terdapat di benteng kuna  Kerajaan Siang (Pangkep, Sulawesi Selatan).Oleh karena semakin berkembangnya penduduk dengan populasi yang meningkat, sehingga dalam perkembangan selanjutnya permukiman berpindah ke daerah Liwu sekitar 1 km arah utra dari Koncu.Perpindahan itu juga mungkin dimaksudkan untuk lebih memudahkan akses dalam menjalin hubungan dengan daerah luar.Dikatakan demikian karena keletakan Liwu sangat strategis.Dari Liwu seluruh sisi baik situasi dari arah laut maupun dari gunung di sekitarnya dapat dipantau, sehingga tidak mengherankan jika di lokasi itupun selanjutnya dibangun benteng (sebagai permukiman dan pertahanan).

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas