.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Tondon

Situs Tondon terletak di Desa Tokkonan, Kecamatan Enrekang dengan posisi koordinat 03º 31 º 43,4, Lintang Selatan dan 119º 47 º 57,7 Bujur Timur dengan ketinggian 609 meter di atas permukaan air laut. Untuk menuju ke situs tersebut dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat melalui jalan rintisan yang sebagian kecil berupa pengerasan, berkelok di antara gugusan gunung dan lembah yang dalam di sekitarnya. Perjalan dengan menggunakan kendaraan dicapai hingga pusat Desa Tondon dan selebihnya berjalan kaki menanjak hingga mencapai puncak gunung (Buttu Batu).

Topografi situs terdiri atas permukaan tanah yang bergelombang dengan gunung dan lembah di sekelilingnya. Pada lereng-lereng gunung berterap yang dilalui ketika akan menuju puncak, ditemukan sebaran fragmen gerabah yang cukup padat. Sejumlah temuan fragmen gerabah (pecahan wadah dari tanah liat) mengindikasikan adanya proses transformasi dari sisa okupasi manusia pada masa lalu. Di puncak gunung terdapat hamparan batuan gamping yang diperkirakan berukuran panjang 250 meter dan lebar sekitar 60 meter.

Untuk sampai pada puncak harus melalui terap-terap tangga dari susunan batu secara artifisial. Pintu menuju puncak terletak pada sisi selatan. Di atas puncak ditemukan berbagai bentuk goresan pada singkapan batuan gamping tersebar di beberapa titik. Selain batu bergores terdapat juga batu lumpang, dakon, dan batu berlubang.

Bentuk-bentuk goresan memiliki variasi dengan rata-rata panjang goresan berukuran 8 – 42 cm. Secara umum bentuk goresan terdiri atas garis-garis lurus (yang paling dominan), belah ketupat, lingkaran roda (cakra). Bentuk goresan dengan komposisi membentuk garis lurus sangat mungkin berkaitan dengan fungsi praktis, yaitu sebagai tempat mengasah. Secara kontekstual, goresan dengan motif garis lurus juga terdapat di sekitar lubang pada wadah batu berlubang.

Batu bergores yang memiliki jenis goresan berupa goresan-goresan kecil berbentuk lurus memberikan indikasi sebagai tempat mengasah suatu alat, mungkin tombak. Memang masih sulit menginterpretasikan lebih jauh mengenai fungsi batu bergores bagi masyarakat Tondon. Namun sebagai komparasi bahwa di daerah Lampung, Lembah Bada (Sulawesi Tengah), Purworejo (Jawa Tengah) batu bergores semacam itu digunakan sebagai sarana untuk mengasah senjata yang akan digunakan dalam perang seperti tombak, parang dengan maksud agar diperoleh kekuatan gaib pada benda tersebut (Kaudern, 1938). Sebagian masyarakat di wilayah pedalaman Soppeng sekitar tahun 1960an masih melakukan tradisi mengasah alat persenjataan mereka seperti pisau, parang, dan tombak yang akan digunakan untuk berburu binatang di hutan. Lain halnya di daerah Kajang (Bulukumba) batu bergores bentuk garis-garis lurus sebagai tanda jumlah raja yang pernah memerintah digoreskan di atas batu tempat pelantikan raja-raja (Duli, 2002 : 36).

Khusus lingkaran yang menyerupai roda mengingatkan pada bentuk arah mata angin. Dalam tradisi masyarakat tradisional pada beberapa daerah di Sulawesi Selatan, dikenal simbol bulan dan matahari, serta penunjuk arah mata angin. Ada kemungkinan goresan berbentuk lingkaran roda merupakan simbol penunjuk arah mata angin atau penentua musim yang erat kaitannya dengan mata pencaharian masyarakat seperti pertanian dan pelayaran. Hal ini memungkinkan karena kondisi daerah tersebut secara geografis sangat cocok untuk pertanian. Masyarakat kini secara kontinuitas masih menanam jewawut (lokal : ba’tan) pada musim-musim tertentu.

Selain goresan-goresan dengan variasi bentuk yang beragam, juga ditemukan dakon (lokal = paggalacengeng) yang secara umum memperlihatkan struktur keletakan lubang yang membentuk pola segi empat dengan jumlah lubang 20 dan dua lubang di bagian kiri maupun kanan. Selain itu, juga terdapat batu dakon dengan struktur keletakan lubang yang melingkar dengan jumlah lubang 10 dan dua lubang induk pada sisi kiri dan kanan.

Batu dakon merupakan salah satu tradisi megalitik yang banyak ditemukan pada hampir semua daerah di Sulawesi Selatan. Bentuk dan jumlah lubang yang terdapat pada permukaan batunya juga bervariasi. Bervariasinya bentuk dan jumlah lubangnya memberi petunjuk bahwa permainan batu dakon mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Batu dakon sebagai sarana permainan tradisional masyarakat di beberapa daerah di Indonesia menggunakan batu-batu kecil atau biji-bijian. Cara bermain adalah batu kecil atau biji-bijian tersebut berjumlah 50, dimainkan oleh dua orang secara bergantian. Kedua orang tersebut mengisi batu-batu kecil atau biji-bijian secara bergilir pada lubang-lubang batu dakon dan masing-masing lubang diisi lima batu atau biji-bijian, kecuali lubang induk yang berada di sisi ujung sebelah kiri dan kanan.

Temuan lain yang cukup banyak yaitu terdapatnya lubang-lubang dengan kedalaman rata-rata berukuran 18 cm. Teridentifikasi bentuk lubang sebanyak 56 lubang. Di antaranya ada yang memiliki permukaan lubang yang halus sebagai bentuk aktivitas masyarakat yang berulang untuk melumatkan biji-bijian. Salah satu batu lumpang berupa bolder dengan ukuran batu yaitu panjang 130 cm, lebar 74 cm, memiliki lubang berbentuk oval berukuran diameter 38 cm.

Dalam kehidupan masyarakat megalitik dikenal sistem mata pencaharian bercocok tanam. Salah satu peralatan yang digunakan dalam kaitannya dengan sistem pertanian adalah temuan lumpang batu yang banyak ditemukan di situs-situs megalitik, sebagaimana halnya yang ditemukan di Situs Tondon. Beberapa temuan lumpang batu yang memiliki permukaan lubang yang halus, menunjukkan aktivitas masyarakat yang menggunakan wadah tersebut untuk mengolah hasil pertanian, menumbuk biji-bijian, dan juga digunakan untuk marmu obat-obatan.

Bagian utara di atas puncak Buttu Batu ditemukan altar yang ditopag oleh beberapa batu, berasosiasi dengan bangunan yang diyakini oleh masyarakat sebagai “makam”. Bangunan ‘makam” itu tidak diketahui nama dan asal usul yang dimakamkan. Namun yang jelas bahwa di sekitar bangunan itu hingga kini masih sering dilakukan upacara baik Maulid Nabi Muhammad SAW, maupun upacara syukuran yang disebut mappeong. Acara adat yang disebut mappeong dilakukan dalam kaitannya dengan kegiatan pertanian terutama jewawut (lokal = ba’tan). Jenis tanam tersebut merupakan salam satu sumber mata pencaharian masyarakat di Desa Tokkonan hingga sekarang. Jenis tanaman itu juga merupakan tradisi yang dibawa oleh para kelompok penutur Austronesia, disamping talas dan sukun.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas