.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs To Jabi

Situs To Jabi terletak di kaki gunung To Jabi, Desa To Jabi, Kecamatan Lasusua dengan posisi koordinat 03° 31 03,8" Lintang Selatan dan 120° 54 30,1" Bujur Timur dan ketinggian 120 meter dpl.Untuk mencapai situs ini yaitu melalui jalan poros Lasusua – Kabupaten Kolaka hingga pada perkampungan Pangempang membelok kekiri menyusuri kebun coklat dan cengkeh milik penduduk dengan berjalan kaki mendaki sejauh kurang lebih 300 meter dengan kondisi lahan yang cukup terjal (45º).

Situs ini memanjang dari barat ke timur di kaki Gunung To Jabi dengan ukuran panjang 50,30meter dan lebar 9 meter. Permukaan tanah yang gembur berpasir halus banyak mengandung moluska yang didominasi oleh jenis freshwater (turritelidae), dan marine (telescopin) yang tersebar merata di permukaan situs. Permukaan tanah tidak rata, bergelombang dan disana sini terdapat lubang-lubang akibat aktivitas pencarian benda antik oleh masyarakat. Sisa-sisa aktivitas mereka terlihat dari beberapa lubang bekas galiannya.Hal itu merupakan fenomena sosial yang umum ditemukan pada gua-gua yang potensial di Kolaka Utara, karena sistem penguburan yang pernah berlangsung di lokasi itu menyisakan benda-benda yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk tujuan mencari keuntungan perorangan atau kelompok.

Asosiasi temuan berupa fragmen tulang dan gigi manusia, fragmen stoneware dan keramik China, cincin dan gelang perunggu.Mungkin saja sejumlah benda lainnya telah diambil oleh masyarakat, namun juga mungkin beberapa jenis dari benda yang ada sebelumnya masih tersisa dan oleh karena kondisi tanah yang gembur dan berpasir halus, sehingga benda-benda tersebut terutama yang berukuran kecil tertimbun kembali.Beberapa temuan cukup memberi indikasi mengenai bentuk aktivitas penguburan berikut benda-benda yang disertakan dalam sistem penguburan. Tidak ditemukan lagi fragmen keranda mayat (lokal = duni) yang biasanya digunakan pada pemakaman gua atau ceruk sebagaimana sering dijumpai pada daerah-daerah lain. Kemungkinannya sudah lapuk atau mungkin memang pemakamannya tidak menggunakan wadah.Namun, dari 9 gua/ceruk yang telah disurvei tahun 2008 memperlihatkan sistem penguburan dengan menggunakan wadah dari kayu, meskipun wadah tersebut kini hanya menyisakan kepingan-kepingan kayu.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas