.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Bulo-Bulo

Sektor penting yang disebut dalam naskah lontara adalah Bulo-bulo, terletak di sebelah Timur dari Ale Tondong. Sektor Bulo-bulo berada di atas puncak bukit berukuran panjang 156 meter dan lebar 44 meter dengan ketinggian 102 meter di atas permukaan laut, terletak di Kelurahan Ale Wanuae, Kecamatan Sinjai Utara dengan posisi koordinat 05º 07 53,8" Lintang Selatan dan 120 º 13 08,6" Bujur Timur. Di sisi selatan Bukit Bulo-bulo mengalir Sungai Data. Untuk menuju ke puncak Bukit Bulo-bulo dapat dicapai melalui jalan aspal sekitar Topekkong lalu berjalan kaki mendaki ke arah Utara. Jalur lain adalah melalui jalan aspal Ale Wanuae lalu berjalan kaki ke arah Barat Daya. Di atas Bukit Bulo-bulo yang kini banyak ditumbuhi pepohonan tanaman keras dan rumpur gajah, tersebar batu-batu lumpang yang dibuat dari singkapan batuan sedimen yang memiliki bentuk, ukuran, dan jumlah lubang yang bervariasi. Jenis batuan yang digunakan sebagai batu lumpang memang merupakan sumberdaya yang banyak tersedia di atas bukit, sehingga tidak mengherankan jika dari sejumlah singkapan batuan sedimen dibuat lubang pada bagian permukaannya. Sejumlah batu lumpang yang tersebar di atas bukit yang tertutup alang-alang dan bahkan lubang-lubangnya diisi tanah yang bercampur fragmen gerabah serta benda lain seperti fragmen tulang binatang. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh batu lumpang tersebut tidak digunakan lagi bahkan benda-benda dari sisa pemakaian wadah masa lampau yang terdapat di dalam lubangnya, merupakan perilaku masyarakat pencari harta karun.

Jenis lubang yang terdapat pada tiap singkapan batu juga bervariasi bentuknya seperti bulat dan segi empat, bahkan terdapat satu bongkah batu yang memiliki lubang dengan diameter 90 cm (mengerucut) dan kedalaman 170 cm yang kemungkinan digunakan sebagai wadah penampungan air dalam sistem permukiman manusia masa lampau. Pada permukaan singkapan batu yang sama juga terdapat lubang berbentuk segi empat dengan ukuran 75 x 75 cm dan kedalaman 60 cm. Selain itu, terdapat satu singkapan batu berdiameter tiga meter yang memiliki tujuh lubang yang bulat dan satu lubang berbentuk segi empat.

Di sebelah timur dengan jarak 16 meter dari kotak ekskavasi ditemukan satu “sumur batu” berdiameter 135 cm dengan kedalaman lubang 175 cm berisi air. Bagian dinding atas dibentuk bulat dan terdapat rekahan selebar 27 cm yang kemungkinan digunakan sebagai saluran air masuk ke dalam sumur batu tersebut. Di sebelah timur dengan jarak 28 meter dari kotak ekskavasi ditemukan altar batu yang dipagar dengan bangunan beratap seng. Batu tersebut hingga kini digunakan sebagai medium pemujaan yang ditandai dengan terdapatnya daun pandan sebagai persembahan upacara tertentu. Bagian luar pagar ditemukan singkapan batu yang memiliki lima lubang. Belum jelas apa dan mengapa masyarakat menghormati sebongkah batu yang dijadikan sebagai medium. Beberapa keterangan menyebutkan bahwa sebongkah batu itu merupakan makam dari pendiri kampung Bulo-bulo.

Peninggalan berupa batu lumpang tersebar merata di atas bukit Bulo-bulo yang sebagian besar tertutup oleh rumput dan alang-alang. Beberapa batu lumpang yang terdapat di bukit tersebut harus dibersihkan bagian-bagian yang menutupi seluruh permukaannya untuk mengetahui bentuk maupun jumlah lubangnya. Di antara batu-batu lumpang itu terdapat satu bongkah batu berukuran 12 x 6 meter memiliki jumlah lubang sebanyak 42 yang terdiri atas lubang-lubang yang berdiameter mulai 10 cm hingga 55 cm dengan rata-rata kedalaman 70 cm, terletak di bagian barat puncak Bukit Bulo-bulo (kode BL 8). Di sekitarnya masih terdapat “sumur-sumur batu” dengan lubang berbentuk bulat berdiameter rata-rata 40 – 55 cm. Di bagian paling ujung (barat) di atas Bukit Bulo-bulo ditemukan satu batu lumpang dan satu batu dakon. Khusus temuan batu dakon diindikasikan oleh terdapatnya lima lubang di bagian kiri dan lima lubang di bagian kanan serta satu lubang masing-masing pada kedua bagian ujungnya. Batu dakon tersebut dipelihara oleh masyarakat dengan diberi bangunan beratap seng.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas