.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Tondong

Kegiatan survei dilakukan dengan cara menelusuri situs dengan mengamati seluruh temuan baik artefaktual maupun monumental. Survei dilakukan di Situs Ale Wanuae yang mencakup sektor Tondong dan Bulo-bulo. Kebesaran Tondong yang dimilikinya kini merupakan nama yang hanya diabadikan pada sejumlah toponim, seperti Tokka dan Kolasa. Sektor Tondong menurut pemahaman masyarakat secara umum adalah Ale Tondong yang terletak di Kelurahan Ale Wanuae, Kecamatan Sinjai Utara posisi koordinat 5º 07 49,9" Lintang Selatan dan 120º 12 44,3" Bujur Timur dengan ketinggian 73 meter dpl. Survei yang dilakukan pada toponim yang disebut Ale Tondong tidak banyak ditemukan indikasi permukiman masa lampau, sangat sedikit temuan artefaktual (seperti fragmen gerabah dan keramik). Masyaraat kini hanya menunjukkan bekas permukiman Tondong pada suatu monumental berupa sebongkah batu yang disebut Ale Wanuae (pusat kampung). Monumen tersebut diberi atap seng dan digunakan sebagai medium pemujaan dari kelompok masyarakat tertentu di daerah tersebut. Selain itu, terdapat makam Islam yang memiliki bentuk bangunan dan nisan yang sudah lebih maju. Posisi keletakan situs Tondong secara keseluruhan di atas bukit dengan Sungai Data yang mengalir di sebelah Barat Daya. Kurangnya temuan terutama yang bersifat artefaktual disebabkan oleh seringnya digali oleh penduduk untuk mencari barang antik. Keterangan yang cukup meneraik dari hasil temuan “para penggali ilegal” di sektor Tondong bahwa mereka sering menemukan wadah gerabah yang berisi abu. Jika hal itu benar, maka gerabah berisi abu yang dimaksud adalah sistem penguburan dengan abu jenazah yang disimpan dalam gerabah. Sistem penguburan seperti itu di kalangan masyarakat Bugis dikenal sebelum masyarakat menganut agama Islam. Namun ketika diminta untuk menunjukkan lokasi temuannya, masyarakat tidak mengetahui secara pasti, bahkan mereka menerangkan bahwa hampir seluruh permukaan situs telah digali oleh masyarakat.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas