.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Tosora Kabupaten Wajo

Situs Tosora berada di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan berada pada titik koordinat 04˚07’14.7” Lintang Selatan dan 120˚07’6.3” Bujur Timur dengan ketinggian 26 meter dpl.Untuk mencapai situs tersebut, dapat ditempuh melalui jalan darat, yaitu dari Paria sekitar 32 km dan langsung dari kota Sengkang ibu kota Kabupaten Wajo sekitar 15 km. Dari sejak dahulu sampai sekitar tahun 1980-an, Tosora dapat pula dicapai dengan melalui jalan air yaitu dengan mempergunakan perahu dari Sengkang lewat Sungai Walannae (Cenrana) terus masuk ke danau-danau yang ada di sekitar Tosora yang berhubungan langsung dengan sungai Walannae, dan langsung berlabuh di sisi barat Tosora. Namun jalan air tersebut, sejak tahun 1990-an sudah tidak dapat lagi dilewati karena terusan yang menghubungkan antara danau-danau yang ada di sekitar Tosora dengan Sungai Walannae sudah diputuskan sehingga menyebabkan danau menjadi kering dan dijadikan penduduk sebagai areal persawahan.

Secara topografis Tosora terdiri dari dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian antara 18 – 32 m dpl.Jenis tanah pada umumnya adalah tanah alluvial yang berwarna coklat tua dan coklat muda, merupakan campuran antara tanah liat dengan butiran-butiran pasir halus.Jenis tanah tersebut terbentuk dari endapan Sungai Walannae. Perbukitan Tosora sebagai pusat Kerajaan Wajo, dikelilingi oleh lima danau, yaitu Danau Latalibolong, Danau Lababa, Danau Seppengnge, Danau Latanparu, dan Danau JampuE. Kelima danau tersebut letaknya berada di sebelah barat, selatan, dan timur situs Kota Tosora, sedangkan pada arah utara terdapat perbukitan yang menghubungkannya dengan Cinottabi.

Di sekitar Tosora juga mengalir beberapa sungai kecil yang merupakan anak Sungai Walannae yang sebagian bermuara ke danau. Secara geologis diketahui bahwa danau-danau yang ada di sekitar Tosora, merupakan sisa dari aliran Sungai Walannae yang bergeser ke arah barat, bahkan dari data sejarah dapat diketahui bahwa aliran sungai sekarang yang jaraknya sekitar 2 km dari Tosora, merupakan perpindahan sungai yang disengaja oleh masyarakat Kerajaan Wajo, yaitu pada tahun 1740 Belanda menyerang Wajo lewat sungai, maka rakyat dikerahkan untuk menimbun aliran Sungai Walannae agar Belanda tidak dapat menyerang secara langsung pusat Kerajaan Wajo di Tosora. Akibat dari penimbunan tersebut, maka aliran Sungai Walannae berpindah ke arah barat (Patunru, 1983).

Temuan arkeologis sebagai bukti kehadiran dan kedudukan Tosora dalam pentas Sejarah Kerajaan Wajo, dapat disaksikan dengan terdapatnya peninggalan budaya berupa puing-puing dan reruntuhan sisa bangunan, seperti mesjid tua, musallah, geddong, gedung bunga, benteng, bekas pelabuhan, makam-makam kuno, dan peninggalan berupa sisa-sisa peralatan perang seperti meriam, peralatan untuk kehidupan sehari-hari seperti berbagai jenis dan bentuk keramik. Peninggalan-peninggalan tersebut banyak yang sudah mengalami kehancuran dan bahkan punah akibat faktor alam maupun manusia.Bentuk dan fungsi peninggalan arkeologis tersebut, secara ringkas dapat dibaca dalam uraian selanjutnya.

 

Peninggalan Mesjid Tua Tosora

Mesjid Tua Tosora merupakan mesjid raya yang pertama dibangun di wilayah Kerajaan Wajo, oleh Arung Matowa Wajo XV La Pakallongi To Allinrungi pada tahun 1621. Pada waktu mesjid tersebut diresmikan, dihadiri oleh Raja Gowa, Raja Bone, dan Datu Soppeng (Patunru, 1983). Letak sisa bangunan mesjid tersebut adalah berada pada ketinggian 30,6 m dpl, persis berada di belakang Kantor Desa Tosora sekarang, di sebelah selatannya terdapat alun-alun. Sisa bangunan yang masih tampak adalah bagian mihrab (ceruk) di sisi barat yang masih utuh, sedangkan bagian dinding lainnya tinggal pondasinya.Masjid ini berdenah bujur sangkar terbuat dari batu yang disusun dengan ukuran, panjang 18,20 meter, lebar 15,90 meter, tinggi tembok 3,70 m, dan tebal tembok 53 cm, pintu pada bangunan ini berada disebelah timur.

Terdapat empat pintu masuk, yaitu dari depan (sisi timur), dari sisi sisi utara-selatan, dan dari sisi kanan (utara) mihrab. Pada bagian dalam mesjid terdapat empat umpak batu sebagai landasan tiang penyangga atap soko guru, pada arah tenggara terdapat kolam sebagai tempat air wudhu dengan ukuran panjang 7,35 m, lebar 5,70 m, dalam 0,76 m, dan tebal tembok 0,41 m. Pada arah timur kolam terdapat sumur tua dengan kedalaman 13 m.

Di bagian belakang (sisi barat) mesjid terdapat beberapa makam-makam kuno, dan yang terkenal adalah makam dari Renreng Bettempola La Gau atau yang bergelar MatinroE ri Masigina. Bahan bangunan mesjid tersebut, berasal dari berbagai jenis batu alam seperti batu kapur yang masih lunak, batu pasir, dan batu beku dengan ukuran yang tidak seragam.Bahan perekat (spesi) dipergunakan campuran pasir dengan kapur yang terbuat dari moluska yang dibakar.

 

Peninggalan Bangunan Musallah

Bangunan Musallah tersebut tidak diketahui kapan dan siapa yang membangunnya, namun ada kemungkinan didirikan bersamaan dengan bangunan geddong dan gedung bunga setelah mesjid tua Tosora lebih dulu dibangun. Letaknya  pada ketinggian 20,8 m dpl, berada pada arah barat mesjid tua dengan jarak 290 m, pada arah baratnya terdapat bangunan geddong dan Danau Seppengnge dengan jarak 30 m. Keadaan bangunan adalah dinding bagian barat masih berdiri tegak sedangkan pada sisi lainnya tinggal pondasinya saja. Bentuk bangunan adalah  empat persegi panjang, dengan ukuran panjang 10,09 m, lebar 9,75 m, tinggi dinding 2,90 m, tebal dinding 0,50 m, dan luas 98,78 m2. Mihrab berupa ceruk berada di sisi barat. Bahan dan teknik bangunannya sama dengan mesjid tua Tosora.

 

Peninggalan Bangunan Gedong (Gudang Amunisi)

Untuk menghadapi serangan Belanda pada masa pemerintahan Arung Matowa Wajo XXX La Salawengngeng To Tenrirura (1715 – 1736), maka dibangunlah geddong sebanyak tiga buah yang terletak di masing-masing limpo, yaitu di Tolotenreng, Tua, dan Bettempola (Patunru, 1983). Geddong yang diuraikan di sini adalah yang terdapat di wilayah Bettempola, yaitu di pusat Kerajaan Wajo, Tosora. Letaknya di Dusun Menge yang berada pada ketinggian 20,8 m dpl, di sebelah timur terdapat bangunan Musallah dan di sebelah baratnya terdapat Danau Seppengnge dan pelabuhan tua. Dinding bangunan pada sisi timur masih tampak berdiri tegak, sedangkan sisi lainnya sudah hancur dan tinggal pondasinya. Denah bangunan berbentuk persegi panjang, dengan ukuran panjang 8,50 m, lebar 5,00 m, tinggi dinding 3,15 m, dan tebal dinding 0,61 m. Bahan dan teknik bangunan sama dengan bangunan Mesjid Tua dan Musallah. Pada sisi utara terdapat  sebuah meriam, dengan ukuran panjang 2,54 m, diameter 0,42 m, dan diameter lop 0,16 m.

            Pada arah barat yang berjarak sekitar 50 m terdapat pelabuhan tua, tetapi tidak ada tanda-tanda sisa bangunan.Yang tampak menarik di sekitar tempat tersebut, adalah adanya sebaran fragmen keramik yang cukup padat.

 

Benteng Pertahanan

Pembangunan benteng pertama kali dibuat oleh Arung Matowa Wajo XVIII La Tenrilai To U’damang (1636 – 1639), kemudian diteruskan oleh penggantinya Arung Matowa Wajo XIX La Isigajang To Bune (1639 – 1643) (Patunru, 1983). Benteng yang masih tampak diamati yaitu di sebelah utara dan selatan, yang memanjang timur-barat. Kedaan benteng pada umumnya sudah hancur, baik yang diakibatkan oleh peperangan,  faktor alam (erosi), maupun oleh aktivitas manusia sekarang. Benteng tersebut terbuat dari tanah, dengan ukuran tinggi 8 m, lebar atas 3 m, lebar dasar 15 m. Pada sisi luarnya dibuat parit, dengan ukuran lebar 6 m, dalam 4 m. Benteng yang ada di sisi utara panjangnya 2 km, dengan lima bastion, sedangkan benteng yang ada di sisi selatan panjangnya sekitar 1 km dengan dua bastion pada masing-masing ujungnya. Sebahagian dari benteng tersebut tidak dapat lagi diamati, karena sudah rata dengan tanah  di sekitarnya.

 

Peninggalan Makam-Makam Kuno

Menurut informasi dari masyarakat mengatakan bahwa di Desa Tosora terdapat banyak sekali makam-makam kuno yang tersebar di mana-mana, baik terkonsentrasi pada beberapa kompleks pemakaman maupun yang tersebar secara acak. Sebaran makam-makam kuno seperti tersebut di atas, penulis masih dapat amati ketika pertama kali berkunjung ke Tosora pada tahun 1987. Namun kondisinya sudah berubah ketika tahun 2002 penulis berkunjung lagi ke daerah tersebut, yaitu semakin bertambah dan padatnya pemukiman penduduk, sehingga sebahagian besar makam-makam kuno tersebut sudah hilang, bahkan bagian-bagian bangunan jirat dan nisannya dipergunakan penduduk sebagai bahan membuat jalan, jembatan dan bangunan rumah. Kondisi tersebut sangat menyedihkan, namun kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi hal yang demikian.Untung bahwa makam-makam kuno yang terkonsentrasi berupa suatu kompleks, sebagian besar sudah dilindungi oleh pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, walaupun kelihatannya tidak terawat dengan baik.

Peninggalan makam-makam kuno yang dideskripsikan dalam tulisan ini, terdiri atas tujuh kompleks yang penamaannya diberikan sesuai dengan nama tokoh yang paling berpengaruh yang dimakamkan di dalamnya, yaitu :

 

Kompleks Makam Arung Benteng Pola

Kompleks makam Arung Benteng Pola berada di sisi barat Mesjid Tua Tosora (Lihat Foto 3).Kompleks makam ini berada pada ketinggian 30,6 m dpl. Terdapat 12 makam yang terlihat.Sebagian makam tersebut sudah tidak memiliki jirat. Bentuk nisanyang terlihat terdiri dari meriam, mahkotadan pipih. Menurut ceritera masyarakat bahwa makam dengan dua nisan meriam, adalah makam dari Renreng Benteng Pola La Gau dengan gelar MatinroE ri Masigina.

Adapun ukuran nisan yaitu :

 Nisan tipe meriam

- Tinggi       : 74 cm

- Diameter : 35 cm

Nisan tipe pipih

- Tinggi       : 66 cm

- Lebar        : 35,5 cm

- Tebal        : 9,5 cm

Nisan tipe mahkota

- Tinggi       : 33 cm

- Diameter : 60 cm

 

Kompleks Makam La Tenrilai To Sengngeng

Kompleks makam La Tenrilai To Sengeng beradatidak jauh dari mesjid tua Tosora. Letaknya berada di sisi utara benteng.Kompleks makam ini berada pada ketinggian 30,7 m dpl.Jumlah makam yang terlihat di kompleks makam tersebut sebanyak 44 makam.Bentuk jirat sebagian besar makam tersebut sangat sederhana.Hal tersebut terlihat karena sebagian besar jirat makam ini terbuat dari papan batu yang disusun persegi.Bahkan ada juga makam yang tidak memiliki jirat.Makam tersebut hanya ditandai dengan nisan yang ditancapkan.

Di dalam kompleks makam tersebut, terdapat beberapa bentuk nisan yang terlihat, yaitu : nisan dari meriam yang konon menurut penduduk setempat mengatakan sebagai makam dari La Tenrilai Tosengngeng, nisan menhir baik yang masif maupun yang sudah ditata dengan ukuran antara 0,43 m – 1,64 m, nisan setengah lingkaran (tipe Wajo) dengan hiasan berupa jari-jari berjumlah 4, 8, 16, 22, dan nisan tipe pipih (berbentuk perisai, ujung tombak). Bahan batu yang digunakan adalah batu sedimen.

 

Kompleks Makam La Maungkace To U’damang

Kompleks makam La Maungkace To U’ damang berada di luar benteng sisi utara.Makam terletak diketinggian 30,6 m dpl. Jumlah makam di kompleks ini sebanyak 83 makam.Sebagian besar jirat di kompleks makam ini tidak terlihat (kemungkinan makam ini juga tidak jirat). Makam tersebut hanya ditandai dengan nisan. Bentuk nisan yang terlihat adalah bentuk menhir yang pada umumnya masih masif, dengan tinggi antara 0,45 m – 2,12 m, nisan silindrik yang paling dominan, dan nisan setengah bulat (tipe Wajo). Menurut masyarakat setempat mengatakan bahwa salah satu tokoh yang dimakamkan di dalamnya adalah La Maungkace To U’damang yang menggunakan nisan menhir yang  paling tinggi.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas