.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Tondon

Selain situs penguburan gua dengan wadah duni, juga ditemukan situs megalitik di Tondon[1]. Situs Tondon[2]secara administatif, berada di Dusun Tondon, Desa Tokkonan, Kecamatan Enrekang pada posisi koordinat 03º 31’ 27,5” Lintang Selatan dan 119º 48’ 4,9” Bujur Timur dengan ketinggian 599 m di atas permukaan air laut. Jarak Dusun Tondon dari jalan poros Makassar-Toraja sekitar ±5 km. Kondisi jalan yang rusak sehingga sangat sulit untuk dijangkau.Untuk menuju ke situs, dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat melalui lereng gunung dengan kondisi jalan rintisan yang sebagian besar berupa pengerasan, berkelok di antara gugusan gunung dan lembah yang ada di sekitarnya.

Situs Tondon berada di puncak Bukit Buttu yang diapit oleh dua sungai.Di sebelah barat laut, terdapat Sungai Mata Alloyang jaraknya sekitar 1 km dari situs.Di sebelah tenggara terdapat Sungai Datte yang juga jaraknya sekitar 1 km dari situs.Kedua sungai tersebut bertemu di sebelah barat daya yang merupakan cabang aliran sungai Saddang. Jarak pertemuan kedua sungai tersebut dari situs sekitar 2,2 km.

Situs Tondon merupakan situs gunung berupa hamparan batuan andesit dengan berbagai bentuk goresan pada permukaannya. Sesuai nama Tondon sebagai tempat ketinggian, sehingga ketika berada di puncak (situs) akan terlihat beberapa perkampungan seperti Kaluppini (sebelah timur), Ranga (sebelah tenggara), Bambapuang (barat laut), Pappi (sebelah barat), Kota Enrekang (selatan), dan Kampung Sarong (utara).

Jarak situs dari jalan pengerasan sekitar ±300 m dengan kondisi jalan yang menanjak.Untuk menuju ke situs berjalan kaki melewati pemukiman dan perkebunan yang banyak ditumbuhi pohon coklat, pohon jati, pohon mangga, pohon bambu dan pohon nira.Topografi situs terdiri atas permukaan tanah yang bergelombang dengan gunung dan lembah di sekelilingnya.Pada lereng-lereng gunung berterap yang dilalui ketika akan menuju puncak, ditemukan sebaran fragmen gerabah yang cukup padat. Sejumlah temuan fragmen gerabah (pecahan wadah dari tanah liat) mengindikasikan adanya proses transformasi dari sisa okupasi manusia pada masa lalu.

Pada saat akan mencapai puncak, terdapat terap-terap batu yang sengaja disusun sebagai tangga. Ketika berada pada tangga tersebut, para pengunjung diharuskan melepas alas kaki[3].Pintu menuju puncak terletak pada sisi barat daya.Panjang hamparan batuan tersebut adalah 264 m dengan lebar 80 m, namun sebagian telah tertutup rimbunan semak belukar. Tinggi batu tersebut dari permukaan tanah 6 sampai 10 m.Di permukaan batuan indikasi arkeologis yang terlihat yakni goresan batudengan variasi bentuk, batu berlubang, lumpang batu, dan batu dakon.

 

Goresan batu

Goresan di hamparan batuan tersebut memiliki beragam bentuk. Bentuk goresan batu yang sering terlihat yakni garis sejajar, garis dua romawi, garis silang, garis pagar, garis kotak menyilang, garis bintang  dan garis kotak. Selain goresan yang memiliki bentuk, terdapat pula banyak goresan yang bentuknya tidak beraturan.

Goresan pertama adalah bentuk garis sejajar.Goresan garis sejajar adalah goresan garis lurus yang berjejer dan tersusun sejajar. Panjang garis yang paling pendek  8 cm  dan yang paling panjang  40 cm. Jumlah goresan yang terlihat di garis sejajar ada 3 garis saja dan ada pula hingga 27 garis. Kedua adalah bentuk garis dua romawi.Goresan garis dua romawi berbentuk angka 2 romawi.Bentuknya berupa 2 garis horisontal yang sejajar dan di silang oleh dua garis vertikal di bagian sudut atas dan di bagian sudut bawah.Ketiga adalah bentuk garis silang.Goresan garis silang adalah garis diagonal yang saling menyilang. Ukuran garis yang paling kecil 10 cm dan yang paling besar 50 cm. Keempat adalah bentuk garis pagar. Goresan garis pagar adalah goresan garis vertikal yang tersusun berjejer dan di bagian tengah di silang oleh satu garis horisontal.

Goresan kelima adalah bentuk kotak menyilang.Goresan garis kotak menyilang adalah goresan yang berbentuk kotak, namun di bagian dalamnya terdapat garis diagonal yang saling menyilang. Ukuran garis sisi kotak panjangnya yang paling kecil adalah 7 cm dan paling besar 30 cm. Jumlah kotak ada yang 25 kotak, 5 kotak dan adapula hanya 1 kotak saja. Garis kotak yang jumlahnya 25, tersusun 5 secara horisontal dan 5 secara vertikal.Goresan keenam adalah bentuk garis bintang.Goresan garis bintang adalah goresan garis vertikal dan horisontal yang saling menyilang, namun di potong pula oleh dua garis diagonal yang saling menyilang.Di ujung garis terlihat agak runcing.Goresan ketujuh adalah bentuk garis kotak.Goresan garis ini berupa garis vertikal yang berjejer dan dipotong oleh garis horisontal yang berjejer pula.

 

Lumpang dan Batu Berlubang

Penamaan antara lumpang dan lubang batu, secara formal memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Lumpang[4] dan batu berlubang[5] ditemukan secara terpisah.   Di sebelah barat daya ditemukan 3 bolder batu yang masing-masing memiliki 1 lumpang. Demikian pula di sisi barat (sebelah kiri) jalan masuk situs, ditemukan bolder batu yang memiliki 4 lumpang. Di sebelah utara, lumpang batu berada di dekat dolmen. Lumpang yang ditemukan memilikiPermukaan lubang yang halus dan ukuran yang agak dalam. Bentuk lubangnya terlihat mengerucutdengan kedalaman 35 sampai 48 cm dan diameter lubang pada bagian dasar 23 sampai 30 cm. Ukuran lubang yang terlihat dalam sebagai gambaran tingginya intensitas penggunaan terhadap lumpang batu. Batu berlubang ditemukan tersebar dipermukaan hamparan batuan. Jumlah batu berlubang secara keseluruhan yakni 187. Ukuran diameter lubang 15-20 cm dengan kedalaman7 sampai 10 cm. Bentuk lubangnya menyerupai tabung yang badan lubangnya terlihat rata.

Lubang batu bergores merupakan lubang batu yang telihat berbeda dengan lubang batu lainnya. Lubang batu bergores adalah lubangbatu yang memiliki goresan pada bagian dasarnya. Terdapat 4 lubang batu bergores yang ditemukan di hamparan batuan. Lubang batu bergores pertama terletak di sebelah barat daya situs.Dasar lubang terlihat berbentuk oval dengan ukuran panjang 80 cm dan lebar 62 cm. Kedalaman lubangnya berbentuk setengah oval dengan ukuran kedalaman22 cm. Di bagian kiri, terlihat garis sejajar yang menempel di dasar lubang. Ukuran panjang rata-rata garis yang menempel tersebut 10 cm. Sedangkan di bagian kanan, tidak terihat adanya goresan yang menempel di dasar lubang. Lubang ini dikelilingi pula oleh goresan garis yang tidak beraturan. Lubang kedua berada dekat di sisi timur mesjid. Di dasar lubang sebagian batuan terlihat retak. Lubangnya berbentuk melingkar dengan ukuran diameter 22 cm. Badan lubang terlihat rata. Goresan yang terlihat berada di sebelah atas namun tidak menempel pada dasar lubang. Bentuk goresan berupa garis sejajar dan sebagian tidak beraturan. Panjang rata-rata goresan 10 cm.

Lubang goresan ketiga berada di sebelah selatan situs. Lubangnya terlihat berbentuk oval dengan ukuran panjang 25 cm, lebar 11 cm dan kedalaman lubang 5  cm. Terdapat goresan yang melingkari dasar lubang. Di sebelah kanan dan kiri lubang terlihat goresan garis sejajar yang menempel pada goresan yang melingkari lubang. Panjang rata-rata garis tersebut 15 cm.  Di sekeliling lubang sangat banyak goresan garis yang tidak beraturan.

Lubang goresan keempat juga berada di sisi selatan situs. Bentuk dasar lubangnya terlihat melingkar dengan diameter 30 cm dan kedalaman 11 cm. Goresan tidak menempel pada bagian dasar lubang. Bentuk goresan hanya berupa garis yang jumlahnya 4 yang ukurannya hanya 10 cm.

 

Dakon Batu

Terdapat 5 Dakon batu yang ditemukan di situsTondon. Dakon batu pertama berada di sebelah barat daya situs.  Dakon batu pertama terdiri dari 14 lubang dengan diameter rata-rata lubang 3 cm. Lubang dakon tersebut berada dalam goresan garis yang berbentuk prisma.  8 lubang di antaranya terlihat tersusun 2jejer serta diapit 2 lubang disisi kiri dan kanan. 1 lubang di antaranya berada di tengah.4 lubang berada di sebelah kiri, tidak berada dalam garis berbentuk prisma. Di bagian atas dan bawah 4 lubang tersebut, terdapat goresan garis yang bersambung dengan garis berbentuk prisma.

Dakon batu kedua berada di sebelah tenggara situs. Dakon kedua memiliki 11 lubang dengan ukuran rata-rata diameter 3 cm. 10 lubang bersusun 2dan saling berjejer, sedangkan 1 lubang berada di sebelah kanan. Dakon batu ketiga berada di sebelah utara situs. Dakon ketiga memiliki 10 lubang yang ukuran lubang rata-rata 5 cm. Lubang dakon tersebut berjejer dan bersusun 2. 1 lubang yang di kanan atas memiliki ukuran diamater 7 cm. Dakon keempat berdekatan dengan dakon batu ketiga. Dakon batu keempat memiliki 11 lubang dengan ukuran diameter lubang 5 cm. 10 lubang berjejer dan bersusun 2, sedangkan 1 lubang yang mulai retak berada di sebelah kanan. Dakon batu kelima berada di sebelah selatan situs.  Dakon batu kelima memliki 20 lubang dengan ukuran rata-rata diameter lubang 3 cm. Lubang daku batu ini berjejer dan bersusun 5 ke samping dan 4 ke bawah.

 

Batu Dolmen dan Fragmen Gerabah

Batu Dolmen berada di ujung sebelah utara situs. Batu dolmen tersebut berbentuk trapesium  yang bagian dasarnya terlihat rata. Ukuran batu tersebut panjang 470 cm, lebar 190 cm dan tinggi 180 cm. Terdapat tiga batu yang menopang batu dolmen. Di sekeliling Batu Dolmen terlihat banyak bongkahan-bongkahan batu dan pohon-pohon liar. Kegiatan upacara adat mappeong dilaksanakan di sekitar dolmen batu tersebut.

Fragmen tembikar hanya ditemukan tersebar di sebelah barat situs. Sebaran fragmen tembikarditemukan di bawah hamparan batuan dengan kondisi daratan yang agak terjal. Jumlah sampel tembikar yang diambil dalam penelitian ini yakni 19 fragmen. Bagian sampel tembikar yang didapatkan yakni 16 tepian, 1 dasar, 1 karinasi dan 1 badan.

 

Budidaya Tanaman Jewawut dan Upacara Adat Mappeong

Tanaman jewawut[6] adalah salah satu tanaman padi-padian yang masih dibudidayakan oleh masyarakat[7] di Dusun Tondon. Masyarakat setempat menyebut tanaman jewawut  dengan nama ba’tan

Penanaman ba’tanbisanyadilakukan oleh masyarakat dua kali dalam setahun.Penanamannya dilakukan dengan caramenghambur benih ba’tan secara merata dipermukaan tanah saat kemarau tiba.Setelah daunnya tumbuh minimal 3 lembar, tanamannya kemudian diambil dan diatur kembali.Sebagian besar masyarakat menanam jewawut bersama dengan tanaman jagung.Hal tersebut dilakukan untuk menghemat lahan mereka yang sempit karena dikelilingi jurang.

Tanaman ba’tanperlu diperhatikan dan dibersihkan dari tumbuhan liar, pada saat batangnya tumbuh hingga 15 cm.Tanamannya mulai matang pada pada hari ke 70, dengan tinggi maksimal batang hingga 1 m.Buah tanaman ba’tanyang terlihat berwarna hijau belum matang, namun apabila sudah terlihat berwarna kecoklatan  dan hitam maka buahnya telah matang. Setelah buahnya matang maka panen dilakukan dengan memotong buah dari tanaman tersebut.Alat panen digunakan yakni rakkapang[8].  Cara penggunaannya dilakukandengan mengaitkan alat tersebut di antara jari tengah dan jari telunjuk, sedangkan ibu jari memegang batang tanaman dan memotongnya hingga buah tanaman ba’tan terlepas.

Setelah di panen, buah ba’tan kemudian ditumbuk memakai lesung. Buah ba’tan  yang telah ditumbuk menghasilkan biji-bijian yang berukuran seperti pasir.Ba’tan merupakan salah satu makanan pokok yang dijadikan pengganti beras[9] oleh masyarakat setempat.

Sebelum penaburan benih ba’tan, mereka melaksanakan upacara adat dengan tujuan  memohon agar hasil panennya diberkahi oleh sang pencipta. Upacara adat yang dilaksanakan secara komunal tersebut dikenal dengan upacara Mappeong.Dalam upacara adat mappeong, biji-biji Ba’tandimasukkan ke dalam bambu dan dibakar sebagai bentuk persembahan  kepada sang pencipta.  Setelah dimasak, maka hasilnya(Peong) kemudian diupacarakan di sebelah selatan dolmen batu yang dipimpin oleh paso(imam adat). Selain peong, perangkat upacara lainnya yang digunakan yakni ayam, daun sirih, kapur dan pinang. Persembahan kemudian dibacakan mantra oleh Pasodengan menghadap ke timur.Sebagian masyarakat tidak memberi alasan akan hal ini, namun menurut kepercayaan mereka bahwa arah hadap timur merupakan asal usul leluhur mereka yang berasal dari timur. Mungkinkah hal itu dimaksudkan untuk menghormati asal-usul kehadiran nenek moyang mereka, ataukah arah timur diyakini sebagai sumber kehidupan, karena arah terbitnya matahari. Namun yang jelas bahwa segala bentuk aktivitas ritual yang dilaksanakan di atas puncak (situs), merupakan refleksi dari kepercayaan yang dianut oleh sebagian masyarakat.



[1]Penelitian Situs Tondon merupakan realisasi dari rekomendasi hasil peninjauan Balai Arkeologi Makassar 2010.

[2]Sebagian masyarakat di Tondon menyebut sebagai situs ButtuBatu.Tondon dalam bahasa Enrekang berarti tempat ketinggian.

[3]Masyarakat masih sangat mensakralkan lokasi atau situs tersebut, salah satu bentuk pensakralan itu adalah tidak boleh menggunakan alas kaki, tidak boleh merokok, dan tidak diperkenankan menggunakan pakaian yang berwarna cerah (seperti warna merah dan kuning).

[4]Pada umumnya lumpang batu merupakan bolder-bolder yang memiliki 1 atau lebih jumlah lubang.Bentuk lubangnya mengerucut semakin ke dalam (ke bawah) semakin mengecil, dan permukaan lubang yang halus sebagai akibat tingginya intensitas penggunaan untuk melumatkan biji-bijian.

[5]Lubang-lubang batu yang banyak ditemukan pada hamparan batuan andesit, memiliki lubang yang bulat dan rata ke bawah, permukaan lubang yang masih kasar, menunjukkan tidak digunakan untuk melumatkan biji-bijian.

[6]Jewawut adalah salah satu tanaman yang dibudidayakan dan dibawa oleh penutur bahasa Austronesia.Jewawut dalam kajian bahasa proto Austronesia adalah salah satu kata yang diperuntukkan bagi spesies tanaman daerah yang beriklim dingin (Baca Bellwood, Hal 314-357). Dalam penelitian ini data tentang tanaman jewawut perlu diuraikan sebagai data penunjang dalam proses migrasi penutur Bahasa Austronesia.

[7]Tanaman Jewawut pernah dibudidayakan oleh sebagian besar masyarakat Enrekang.Namun di saat sekarang, hanya sebagian kecil masyarakat di Enrekang yang masihmembudidayaanJewawut.

[8]Rakkapang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama ani-ani. Ani-ani merupakan salah satu alat  pertanian yang digunakan untuk memanen padi. Namun di saat sekarang, ani-ani sudah sangat jarang dipakai pada masyarakat pertanian di Sulawesi Selatan

[9]Beras atau padi tetap dikonsumsi oleh masyarakat setempat, namun tidak dibudidayakan.Masyarakat setempat hanya membeli beras di pasar.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas