.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Gua Batti

Situs Gua Batti yang terletak di wilayah Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone adalah salah satu lokasi dimana aktivitas manusia masa lalu pernah terjadi. Eksistensi situs tersebut pertama kali dilaporkan oleh para peneliti biologi gua dari LIPI dan lembaga penelitian dari Prancis tahun 2007, yang menemukan sejumlah artefak (alat litik dan fragmen gerabah) dan sisa makanan (fragmen kerang, tulang binatang).

 Secara keseluruhan situs gua Batti jika dipandang dari kandungan data arkeologi yang dimiliki, tergolong sebagai salah satu situs yang potensial untuk diteliti dalam waktu panjang. Walau demikian, situs Gua Batti menghadapi ancaman yang cukup serius. Ancaman tersebut, selain karena aanya aktivitas manusia maupun karena factor alam.

Situs Gua Batti telah dikenal oleh masyarakat khususnya masyarakat Bonto Padang. Lantai gua yang merupakan tumpukan/endapan quano (tai kelelawar) sangat potensial dijadikan sebagai pupuk. Kondisi ini menyebabkan, masyarakat menggali dan mengambil tanah lantai gua untuk dijadikan sebagai pupuk tanaman. Terlihat dari lantai gua yang banyak terdapat sisa galian hingga kedalaman mencapai 70 cm.

Pengrusakan alami yang dimaksud berupa proses pelapukan batuan. Proses pelapukan terjadi cukup cepat karena kelembaban yang sangat tinggi. Jamur tumbuh disebagian besar dinding dan langit-langit gua sehingga menutupi lukisan gua. Kelembaban yang tinggi disebabkan karena arah hadap gua yang mengarah ke barat sehingga intensitas cahaya matahari relatif kurang.

 dan proses kelembaban yang cukup tinggi sehingga menyebabkan sebagian lukisan tertimpa oleh jamur dan lumut. Adanya penjamuran maupun pelumutan tersebut  menyebabkan sebagian dari lukisan prasejarah itu  terkelupas bahkan sebagian dari lukisan itu sudah tidak jelas lagi (lihat foto). Hal lain yang juga memperihatinkan dari keberadaan Gua Batti ini, yaitu dalam waktu tertentu (musim libur sekolah) seringkali ada kunjungan siswa sekolah menengah (SMA) dari daerah sekitar ke gua tersebut. Kegiatan anak-anak sekolah tersebut tanpa disadari melakukan pengrusakan data arkeologi, yaitu dengan melakukan corat-coret pada dinding gua yang sebagian telah menimpali lukisan prasejarah yang ada pada dinding gua. Keseluruhan aktivitas yang mengancam gua Batti, baik bersifat alami maupun yang dilakukan oleh manusia sendiri, hingga sekarang masih dapat disaksikan berupa bekas-bekas lubang galian ilegal yang tersebar di permukaan gua, corat-coret yang dilakukan pada dinding gua, pelapukan batuan maupun penjamuran dan pelumutan yang menyebabkan sebagian dari lukisan prasejarah terkelupas bahkan hilang (lihat foto).

Proses geologis berupa pembentukan stalagtit dan stalagmit dari pengamatan tim penelitian sudah tidak tampak lagi.  Struktur atau kondisi permukaan gua pada saat dihuni oleh manusia prasejarah tampaknya sudah mengalami sedikit perubahan. Perubahan yang dimasud adalah runtuh atau lepasnya sebagian batuan dari batuan induknya  (stalagmit dan stalagtit maupun batuan dinding) sehingga banyak ditemukan bongkahan gamping berserakan pada permukaan gua maupun yang jatuh dan mengelinding ke sekitar tebing gua (lihat foto). Alasan kami mengatakan bahwa sruktur gua mengalami perubahan, yaitu selain banyak ditemukan bongkan batu di permukaan gua maupun di depan mulut gua juga diperjelas oleh posisi  lukisan pada dinding dan langit-langit gua yang berada cukup tinggi dan susah dijangkau.  Tentu saja pada saat lukisan ini dibuat oleh manusia prasejarah, mereka dengan mudah meletakkan lukisan pada panel tertentu sebab struktur permukaan gua pada saat itu masih saling berhubungan oleh batuan yang telah runtuh itu.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas