.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Allekkuang

Sabtu, 21 Mei 2016

Administrator

Islam

Dibaca: 287 kali

Terletak di Desa Allekkuang Kecamatan Maritengngae dengan letak astronomis 03°58 21.5" Lintang Selatan dan 119°47 50.2" Bujur Timur dengan ketinggian 41 meter dari permukaan laut. Jenis tinggalan berupa masjid kuna allekkuang dan kompleks makam. Berdasarkan dari penelitian Stephen Charles Druce tahun 2005 berhasil menemukan fragmen keramik yang tersebar dalam wilayah situs. Akan tetapi survey kali ini tidak ditemukan lagi sisa fragmen keramik karena telah dipenuhi oleh pemukiman penduduk.

 

Masjid Kuna Allekkuang

Masjid kuna adalah sebuah bangunan persegi empat  berukuran  40 x 40 meter. Tiang-tiangnya terdiri atas kayu bulat berjumlah 19 buah yang disusun berpasang-pasangan pada keempat sisinya. Kayu penghubung antara tiang berupa balok pipih dengan cara sambung menggunakan pahat, dinding terbuat dari batu dan seng, sedangkan atap terbuat dari seng. Atap berbentuk tumpang tiga model limasan. Pada bagian puncak terdapat bangunan segi delapan yang terpisah dengan atap utama antara atap dengan bangunan segi delapan tersebut terdapat dinding-dinding yang memiliki jendela kecil. Pada bagian ini terdapat sebuah loteng dan tangga yang berfungsi sebagai jalan naik untuk melakukan adzan. Ciri lain dari mesjid ini adalah tidak ditemukannya menara sebagai mana yang terlihat pada masjid-masjid kuna lainnya. Lantai masjid berupa tembok semen yang pada waktu dahulu, menurut informasi hanya berupa tanah yang diberi alas papan, pada bagian tengah terdapat 4 buah tiang (soko guru) yang berfungsi menopang atap utama.

Disisi barat terdapat mihrab berbentuk persegi tempat imam memimpin shalat. Didalam dinding masjid terdapat hiasan kaligrafi yang dibuang belakangan, bagian –bagian masjid lainnya adalah bedug yang diletakkan di pojok barat daya bangunan masjid. Selain itu didapati 2 buah mimbar, sebuah diantaranya dibuat belakangan sedangkan yang satunya lagi diperkirakan dibuat bersamaan dengan masjid masjid tersebut dibangun, mimbar yang tua ini tidak digunakan lagi dan diletakkan disebelah kiri mimbar sejajar dengan mimbar yang dipakai sampai sekarang. Pada bagian atap mihrab terdapat 4 buah genta perunggu. Disudut tenggara terdapat bedug yang menjadi salah satu cirri bangunan masjid tua.

Menurut informasi, bahwa sebagian besar dari bahan bangunan masjid sudah diganti dengan yang baru termasuk tiang-tiang penyangga. Warna tiang dan sambungan masing – masing tiang adalah coklat tua sedangkan dinding masjid terdiri dari dua bagian yaitu setengah bagian adalah tembok dan setengah bagian lagi dari seng, warna dinding merah putih berdasarkan perkiraan, bahwa masjid ini berusia ± 400 tahun dan merupakan salah satu masjid yang tertua di Kabupaten Sidrap atau bahkan di Sulawesi Selatan yang masih dapat dilihat sampai sekarang.

Meskipun sebagian besar dari komponen bangunan masjid tidak orisinil lagi, akan tetapi bentuk dasarnya dan model bangunannya masih tetap mempertahankan bentuk yang lama. Bangunan masjid ini dihubungkan dengan makam Syekh Bojo yang makamnya tidak jauh dari bangunan masjid.

 

Kompleks Makam

Terletak di Sebelah Selatan dan barat masjid. Jumlah makam ± 30 buah dengan variasi bentuk jirat dan nisan yang berbeda-beda. Sebagain besar makam masih memperlihatkan bentuk aslinya, namun terdapat beberapa makam yang telah mengalami perubahan dengan bentuk dan bahan kekinian. 

Salah satu makam yang masih sering dikunjungi warga adalah makam Syekh Bojo. Makam ini memiliki bangunan berukuran 3 x 4 meter, lantai tegel dan atap seng. Walaupun bentuk makam sudah tidak asli karena telah diganti dengan tembok yang tegel namun masih memiliki nisan yang asli. Yang unik adalah jumlah nisan yang tidak sepertinya makam pada umunya yaitu 5 buah nisan, 4 buah nisan berbentuk gadah segi delapan yang diantaranya terdapat satu buah nisan bentuk menhir. Bahan nisan terbuat dari batu pasir. Akan tetapi, berdasarkan dari informasi penduduk bahwa makam ini telah mengalami perubahan. Pada awalnya, makam terdiri dari 5 buah yang jelas lagi jiratnya. Sehingga, pada saat renovasi, kelima nisan tersebut disatukan ke dalam satu buah jirat seperti yang tampak pada masa sekarang. Lebih lanjut disebutkan bahwa kelima makam tersebut terdiri dari makam Syekh Bojo dan para pengikutnya.

 

Kolam Air

Kolam air teletak di depan masjid dengan bentuk persegi empat, pada sisinya telah disemen, oleh penduduk  setempat menjelaskan bahwa, kolam ini tidak pernah kering dan digunakan sumber mata air oleh penduduk  setempat sejak jaman dahulu (jaman nenek Mallomo) Ukuran kolam adalah;  berukuran 4 x 5 meter dengan kedalaman 10 meter.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas