.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Possiq Wanua Sidenreng

Secara administratif terletak di Desa Empagae Kecamatan Watan Sidenreng. Dalam wilayah situs terdapat beberapa lokasi temuan yang terletak saling berjauhan diantaranya situs possiq wanua, kompleks makam, sumur kuna, lumping batu, menhhir, bocco-bocco, dan makam Petta Maupe. Selain juga terdapat sebaran fragmen keramik yang terkonsetrasi di kompleks makam.

 

Possiq Wanua

Secara astronomis terletak pada 03°56 35.7" Lintang Selatan dan 119°50 55.4" Bujur Timur dengan ketinggian 18 meter dari pemukaan laut. Situs ini merupakan sebidang tanah berbentuk segi empat dengan ukuran kurang lebih 24 x 24 meter  yang dikelilingi oleh lahan pertanian (sawah). Permukaan tempat upacara ini berupa batu yang berbentuk batu nisan, yang memiliki ketinggian sekitar 20 cm di atas teras sawah menurut informasi penduduk setempat, bahwa tempat upacara ini dihubungkan dengan adanya beberapa tempat duduk yang disediakan untuk istirahat dan melakukan pesta ketika hasil panennya melimpah atau ada hal lain yang ingin dicapai. Struktur batu dan semen di dalam situs yang berfungsi sebagai jalan menuju tempat upacara.

Selain sebagai tempat upacara setelah pesta panen, situs ini juga sering kali difungsikan sebagai tempat bermusyawarah membahas masalah pertanian dan sekaligus sebagai tempat pemotongan binatang untuk dikonsumsikan pada situs upacara ini.

 

Menhir

Terletak ± 250 meter sebelah timur Possiq Wanua dengan letak astronomis 03°56 39.3" Lintang Selatan dan 119°50 49.8" Bujur Timur. Nampak sangat terawat, memiliki atap yang terbuat dari seng. Berdasarkan dari informasi dari masyarakat bahwa, menhir ini masih sering digunakan sebagai sarana upacara khususnya pada saat upacara pesta panen.

 

Bocco-bocco

Terletak 30 meter arah barat laut dari menhir, disebuah perkebunan penduduk. Tinggalan ini menyerupai sebuah makam yang memiliki jirat dan 3 buah nisan, 2 buah berbentuk pipih dan 1 buah berbentuk menhir yang terletak di tengah. Nampak sangat terawat, memiliki sebuah pelindung dengan atap seng, jirat terbuat dari semen yang tegel. Dari informasi penduduk bahwa, lokasi ini masih sering dikunjungi untuk pelaksanaan upacara ritual khususnya pada saat pesta panen. Sesajian yang dibawa akan dikuburkan didepan Bocco-bocco.

 

Makam Petta Maupe

Makam Tau Maupe ini terdapat di tengah-tengah areal persawahan Watang Sidenreng, di dalam kompleks terdapat sebuah makam kuna dan tempat duduk yang digunakan oleh pengunjung sebagai tempat pertemuan dalam hal upacara ritual, kini masih banyak pengunjungya pada hari-hari tertentu yaitu kepercayaan terhadap arwah-arwah leluhur dengan mempersembahkan sesajian sebagai rasa syukur, dengan memotong binatang seperti kambing dan ayam. Pada tempat ini masih ada sisa-sisa binatang yang digantung di atas, dekat atap seng dengan bau yang menyengat.

Tim penelitian menuju ke sarana ritual, makam kuna Tau MaupeE dan menyaksikan sisa makanan berupa bangkai sisa binatang yang dipersembahkan, tampak pada atap seng yang digantung, berupa kaki ayam dan kaki kambing. Gabah dan mata uang juga ditemukan di sudut jalan Watang Sidenreng dengan tujuan yang sama.

Bagi masyarakat di Sidenreng Rappang masih mempercayai  tradisional saukang dengan nilai turun temurun  dan sangat dipegang teguh. Prinsip-prinsip yang dipakai adalah ukuran nilai yang terbina oleh nenek moyang mereka  sejak dahulu kala. Pewarisan nilai-nilai bagi masyarakat tradisional sering ditempuh melalui sarana yang tidak resmi.

Tempat upacara ini merupakan sebidang tanah berbentuk segi empat dengan ukuran kurang lebih 24 x 24 meter yang dikelilingi oleh lahan pertanian (sawah). Permukaan tempat upacara ini berupa batu yang berbentuk batu nisan, yang memiliki ketinggian sekitar 20 cm di atas teras sawah menurut informasi penduduk setempat, bahwa tempat upacara ini dihubungkan dengan adanya beberapa tempat duduk yang disediakan untuk istirahat dan melakukan pesta ketika hasil panennya melimpah atau ada hal lain yang ingin dicapai. Struktur batu dan semen di dalam situs yang berfungsi sebagai jalan menuju tempat upacara.

 

Lumpang Batu

Keseluruhan lumpang batu yang ditemukan di situs watang sidenreng berjumlah tiga buah. Dua buah lumpang batu memiliki satu lubang masing-masing kategori kecil sekitar 20-35 cm. Sebaran lumpung batu berada diareal pemukiman, bahkan tidak jauh dari sumur kuna, jika melihat permukaan dasar lubang dari lumpang batu di Watang Sidenreng yang memberikan petunjuk berfungsi profan yaitu untuk pengolahan padi atau biji-bijian. Biasanya lumpang batu difungsikan untuk menumbuk butiran padi dan digunakan untuk mengolah rempah –rempah dan bedak.

Pada masyarakat Sulawesi Selatan terdapat kebiasaan untuk menumbuk sebagian padi menjadi tepung. Proses membuat tepung ini dikenal dengan istilah  Mallabbu  (bahasa Bugis), alat yang digunakan untuk menumbuk yaitu lubang lumpang batu dan penumbuk. Bentuk dan ukuran lumpang  batu umumnya berukuran kecil dan bulat. Upacara tradisional dengan segala perlengkapan dan symbol-simbol senantiasa menimbulkan emosi keagamaan. Ini menjadi sarana sisialisasi dari norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap upacara ritual. Upacara ritual yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

Penggunaan lumpag batu dapat dilihat dari adanya bekas pemakaian pada bagian permukaan lubang yang tampak halus, dan memperlihatkan keausan pada bagian tepi dan dasar lubang yang cenderung melebar dan halus akibat pemakaian yang intensif. 

Untuk mengetahui fungsi lumpang batu sangat ditentukan oleh beberapa factor, antara lain bentuk lubang dan kedalamannya serta lokasi keletakannya. Dari hasil pengukuran terhadap beberapa  lumpang batu dari berbagai tempat   dibedakan  atas tiga kelompok  berdasarkan ukurannya. Ukuran masing-masing kelompok, biasanya kelompok besar, panjang 200 – 400 cm, lebar 120-150 cm, tebal 60-80 cm. Kelompok sedang,, panjang 150-190 cm, lebar110-140 cm, tebal 50-60 cm. Kemudian kelompok kecil; panjang 50-80 cm,lebar 30-85 cm, tebal 20-35 cm (Somba,2002 : 49).  

Salah satu lumpang batu ditemukan dihalaman rumah penduduk dengan bongkahan batu besar dan tebal konon batu ini adalah milik nenek Mallomo, Lumpang batu memiliki masing-masing satu  buah lubang, berdiameter  kategori kecil yaitu sekitar 50-80 cm.

 

Sumur

Di kampung Watang Sidenreng terdapat sebuah sumur kuna yang masih -.Sumur Kuna difungsikan oleh penduduk setempat hingga sekarang. Sumur ini dengan ukuran besar yang sudah memakai penguat dengan menggunakan perekat dari bahan semen, terletak ditengah-tengah persawahan. Menurut penduduk, sumur ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau, sehingga menjadi sumber air yang cukup penting bagi masysrakat kampung ini  dan airnya juga difungsikan sebagai air suci bagi orang yang mempercayainya.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas