.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Sillanan

Sillanan adalah nama sebuah perkampungan tradisiaonal masyarakat Toraja. Secara administratif termasuk wilayah Kampung Sillanan, Desa Sillanan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Perkampungan Tradisional Sillanan terletak di sebelah barat jalan poros Makassar – Makale, berjarak 16 km dari makale dan 300 km dari Makassar. Untuk mencapai situs ini kita melalui jalan Desa dari Pasar Mebali sekitar 6 km ke arah barat.

Secara geologis batuan yang menyusun bentang lahan di daerah Sillanan terdiri dari susunan batuan gamping, dengan kemiringan topografi tanah antara 350 – 450 yang terbentang dari arah Timur ke arah Barat dan berakhir pada sebuah perbukitan terjal dengan kemiringan antara 600 – 900, perbukitan itu bernama bukit Suriak dengan ketinggian antara 1300 -1800 m dpl. Perkampungan Sillanan berada pada ketinggian 1250 m dpl.

Di sebelah Selatan perkampungan terdapat sungai kecil dan sebuah perbukitan gamping, sebelah timur terdapat areal perkebunan dan persawahan penduduk serta jalan desa, sebelah utara terdapat hutan dan perkebunan. Di sekitar situs ditumbuhi pohon kelapa, bambu, beringin, asam, randu, jati, jeruk, cengkeh, kakao, umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar dan talas) serta semak belukar. Terdapat banyak mata air yang mengalir di permukaan berupa sungai kecil disebelah selatan kampung.

Situs perkampungan tradisional Sillanan pertama kali diketahui dari hasil survei lapangan mahasiswa Arkeologi Unhas pada tahun 1989, berdasarkan informasi masyarakat setempat. Dari hasil pendataan awal tersebut kemudian oleh pihak kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Sulaweswi Selatan dan Tenggara menjadikannya sebagai tinggalan budaya yang dilindungi. Pada tahun 1994 oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja menjadikannya sebagai salah satu objek tujuan wisata budaya. Pada tahun 1998-1999 pemerintah Jepang lewat Japan Foundation melakukan pemugaran dan memdirikan dua buah Tongkonan di kampung Sillanan.

Menurut cerita masyarakat setempat, bahwa daerah Sillanan dulunya adalah  tempat menetap  nenek moyang mereka yang pertama kali datang ke daerah tersebut dan kemudian ditinggalkan setelah masuknya pemerintah Belanda yangh memaksa penduduk yang tinggal di daerah pegunungan untuk pindah ke daerah yang lebih datar di sekitar jalan raya atau pusat-pusat pemerintahan. Masyarakat sekitar menyebut daerah yang telah ditinggalkan itu dengan sebutan kampung tua. Pegunungan batu Suriak dijadikan sebagai tempat penguburan.

Sebaran situs yang terdapat di daerah Sillanan dapat dibagi atas enam situs berdasarkan keadaan, letak dan konsentrasi temuan. Pemberian nama situs disesuaikan dengan penamaan lokasi oleh penduduk setempat, yaitu 1. situs Tongkonan Layuk, 2. situs Bubun, 3. situs Pakpuangan, 4. situs Rante Simbuang, 5. situs Rante Sarapuk dan 6. Situs Liang.

Tongkonan Layuk berada pada punggung bukit sampai di atas puncak bukit dengan orientasi utara-selatan yang membujur dari tumur ke barat, bukit ini merupakan punggungan dari gunung suriak. Situs Tongkonan layuk ini pada arah timur berbatasan dengan kebun, jalan desa dan perumahan penduduk, sebelah selatan berbatasan dengan kebun, rumpun bambu dan sungai kecil, sebelah barat berbatasan dengan situs pakpuangan, pegunungan suriak dan sebelah utara berbatasan dengan kebun, rumpun bambu, jalan desa dan perumahan penduduk. Tongkona Layuk berbentuk terasan yang terdiri dari tiga teras, teras paling bawah disebut teras I dan teras tengah disebut teras II serta teras tiga disebut teras III. Teras dua terbagi atas sembilan petak dan teras tiga terbagi atas tiga petak. Puncak teras terletak pada bagian tengah sisi timur teras III. Masing-masing teras dibatasi    dengan    susunan   batu   yang

ditingikan pada sisi yang lebih rendah, sedangkan masing-masing petak dibatasi dengan susunan batu sebagai penyekat antara satu petak dengan petak yang lainnya. Jenis batuan yang dipergunakan batu gamping yang diperoleh dari lingkungan sekitar tanpa mengalami pengerjaan atau pembentukan terlebih dahulu. Ukuran batu tidak sama tetapi rata-rata merupakan bongkahan batu yang dapat dipindah tempatkan. Keadaan permukaan tanah situs tongkonan layuk merupakan perpaduan antara bentuk permukaan tanah urukan dan yang terdiri dari susuna batu gamping, tanah liat dan humus.

Situs pakpuangan terletak pada bukit kecil dengan batas-batas adalah sebelah timur situs tongkonan layuk, sebelah selatan permukaan tanah dengan kemiringan yang terjal, sebelah barat pegunungan suriak dan situs liang, sebelah selatan bukit yang terjal dan rumpun bambu. Secara keselurhan situs pakpuangan merupakan teras berundak pada bukit batu gamping yang terdiri dari tiga teras, dari bawah keatas disebut teras I, II dan III.

Rante simbuang terletak pada arah tenggara situs tongkonan layuk dengan jarak dari tongkonan layuk adalah 115 m, rante simbuang berada pada kaki bukit yang landai dengan permukaan tanah yang miring, kemudian dibentukan dengan meratakan permukaan tanah tersebut sebagai tanah lapang yang berbentuk oval memanjang dari timur ke barat, pada arah selatan berbatasan dengan sungai kecil dan bukit gamping, sebelah barat berbatasan dengan sungai kecil dan bukit gamping, sebelah barat berbatasan dengan hutan belukar, pohon beringin dan rumpun bambu, pada sudut baratlaut terdapat situs bubun dan sebelah utara berbatasan dengan jalan rintisan desa dan kebun penduduk. Pada sisi timur sudah mengalami penuturan akibat tererosi oleh air, bahkan ada tanda-tanda akan longsor. Jenis-jenis temuan yang terdapat pada situs rante simbuang adalah menhir, karopik, dan beberapa batu monolit.

Bubun terletak di kaki bukit, dengan batas-batas adalah sebelah timur berbatasan dengan kebun penduduk, sebelah tenggara berbatasan dengan situs rante simbuang, sebelah utara berbatasan dengan kebun dan pohon beringin, sebelah barat berbatasan dengan pohon beringin dan bambu, sebelah selatan berbatasan dengan jalan desa. Bubun adalah tempat menambil air berupa mata air yang keluar dari celah-celah batu gamping di bawah permukaan tanah.

Rante sarapuk terletak pada arah timur, jarak 165 m dari tongkonan layuk. Letaknya berada pada kaki bukit yaitu di tengah kebun penduduk dan pada arah timur sekitar 100 m terdapat lahan pesawahan. Situs ini berbentuk tanah lapang yang datar (rante).

Situs liang yang terdapat di daerah sillanan terdiri dari dua buah gua alam, kompleks liang 1 terletak pada arah barat dengan jarak antara 37 – 60 meter dari sisi barat situs Pakpuangan tepat berada di sisi tebing perbukitan suriak berada di ketinggian 17 m dari permukaan tanah dan kompleks liang 2 terletak di puncak bukit suriak, berjarak sekitar 200 m sebelah utara liang pertama di ketinggian kurang lebih 150 m dari permukaan tanah. Bentuk kubur yang terdapat disitus ini adalah liang tokek, liang pa’, patane dan makam Islam.

Kompleks liang 1 memiliki bentuk kubur berupa liang gua alam 1 buah dengan ukuran , liang tokek 1 buah berisi 2 buah erong perahu, liang pa’ tebing 8 buah, pattane 4 buah dan makam islam sebanayak 4 buah. Bentuk erong yang terdapat di dalam liang alam adalah bentuk babi dan kerbau. Selain itu, terdapat juga erong perahu di permukaan tanah sebanyak satu buah. Wadah erong tersebut sebagian besar dalam kondisi rusak, ada yang sudah tidak menampakkan ukiran dan sebagian hanya tersisa penutupnya saja. Didalam liang juga terdapat mayat yang disillik sebanyak... wadah kubur yang terdapat didalam liang pa’ dan patane tidak dapat diamati karena dilarang oleh masyarakat, namun dari hasil wawancara diketahui bahwa wadah kubur yang dimasukkan kedalam liang pa’ dan patane adalah wadah berupa patti to mate.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas