.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Focus Group Discussion (FGD) Penelitian dan Pengembangan Situs Peninggalan PD II Konawe Selatan, Sultra, 2016

Konawe - Balai Arkeologi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi Universitas Halu Oleo Kendari melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) pada tanggal 17 Desember 2016, yang sebelumnya direncanakan tanggal 14 Desember 2016. FGD ini dilaksanakan di Aula Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari. FGD difokuskan untuk membahas perencanaan dan penilaian peluang menuju pengembangan destinasi pendidikan, kebudayaan, lingkungan dan pariwisata. Sejak diketahui dan diteliti arkeolog tahun 2012, beberapa informasi awal sudah memberi gambaran potensi dan keunikan situs. Pembahasan juga terkait upaya mencari solusi pemanfaatan potensi arkeologi untuk public mengingat lokasi situs berada dalam kawasan militer (Pangkalan Lanud Halu Oleo) Kendari.

Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan sebagai upaya tindaklanjut pasca penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi UHO. FGD mengadirkan 4 narasumber, yaitu: Drs. H. Abd. Rauf Sulaeman, M.Hum. (FIB-Universitas Halu Oleo), Capt. Aswin (LANUD Halu Oleo), M. Irfan Mahmud, M.Si. (Balai Arkeologi Sulawesi Selatan), dan Wakil Tim Peneliti situs Peninggalan Perang Dunia II Konawe Selatan, yakni Sahruddin Mansur, MA dan Nur Ihsan, MA. FGD ini dihadiri 57 peserta terdiri dari 20 stakeholder terkait di Konawe Selatan dan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara serta  27 mahasiswa arkeologi UHO dan 10 tim peneliti arkeologi. Stakeholder yang diundang khusus berasal dari Pemda Konawe Selatan, Camat Ranomeeto, Asita Sulawesi Tenggara, LSM, Komunitas Pencinta Alam, Pemda Propinsi Sulawesi Tenggara, civitas akademika UHO, tokoh masyarakat, pelaku pendidikan, guru, dan jurnalis.

Narasumber dari UHO, Bapak Abd. Rauf Sulaeman memaparkan prospek pengelolaan situs sebagai museum terbuka. Sementara Bapak Aswin yang mewakili Komandan LANUD Halu Oleo membahas aspek penting keamanan bandara dan solusi pemanfaatan. Selanjutnya, Kepala Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, M. Irfan Mahmud, memaparkan prospek pengelolaan destinasi terpadu (pendidikan, lingkungan, dan wisata adventure). Dalam kesempatan itu, KaBalar Sulsel juga memaparkan 7 nilai penting situs untuk pendidikan karakter dan apresiasi sejarah-kebudayaan, perbandingan situs sejenis dan analogi dengan destinasi modern lainnya, serta taksiran ekonomis pengembangan situs. Irfan misalnya mengilustrasikan, bahwa  jika 22 gudang senjata Jepang yang masih utuh memiliki nilai bangunan tidak kurang 70 juta per bangunan, maka jika ini dimanfaatkan untuk toko souvenir, restoran/cafe, atau galeri, dapat mengurangi beban persiapan infrastruktur yang sangat menguntungkan. Terakhir, narasumber tim peneliti memaparkan gambaran potensi arkeologis dan peta situs hasil penelitian. Berdasarkan data hasil penelitian, tim peneliti Balar Sulsel – UHO juga menampilkan usulan rancangan desain “Tiga Dimensi”pengembangan (tracking destinasi dan fasilitas pendukung) dan mengusulkan sektor pilihan yang bisa diharapkan meminimalkan resiko mengganggu aktivitas militer dan keamanan bandara.

FGD ini juga merupakan langkah awal meningkatkan apresiasi dan partisipasi publik akan nilai penting situs. Situs ini memiliki nilai penting bagi jati diri (kebangsaan), pendidikan, penelitian, sejarah dunia, arsitektur, lingkungan budaya, dan ekonomi (pariwisata). Dalam bidang pendidikan, situs ini memiliki 150 titik obyek bangunan/struktur arkeologis pada satu satuan lokasi yang dapat memberikan informasi luas tentang sejarah PD II dalam rangka memupuk jiwa patriotisme dan semangat kebangsaan. Situs ini juga dapat menjadi arena rekreatif yang indah dan unik serta dapat melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya. Keunggulan situs ini juga karena 75 persen bangunannya masih utuh dan relative terjaga; situs ini juga berada pada kawasan hutan alami yang bisa sekaligus menjadi tempat belajar tentang lingkungan (jenis tumbuhan, dari sabana hingga berbagai tumbuhan hutan). Pada sector 3 terdapat himpunan 52 bunker yang berada di sisi sungai berbentuk meander yang airnya jernih. Sungai ini merupakan sumber air yang baik. Mengingat potensi dan nilai situs ini, semua peserta sangat mengharapkan perhatian besar dari Pemda Konawe Selatan serta keterlibatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan dalam pelestarian kawasan, khususnya penataan fisik ruang situs.

Dari FGD yang dipandu Bapak Eril (fasilitator), diputuskan untuk membentuk Pokja Pengembangan situs yang terdiri dari sejumlah wakil stakeholder. Para peserta telah memilih Bapak Rahman Rahim A.Md. sebagai Ketua Pokja. Pokja juga selanjutnya akan bekerja merampungkan tim kerja, merumuskan langkah-langkah desain program/kegiatan, promosi, dan koordinasi lintas sektoral/instansi hingga terbentuknya manajemen terpadu yang sesuai dengan ketentuan hukum dan kebijakan pemerintah, baik tingkat lokal maupun nasional.  

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas