.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Temuan Situs Perang Dunia II Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Tahun 2016

KENDARI Arkeologi-Sulawesi.com -- Pada awal Desember 2016, selama 12 hari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dengan menggandeng Jurusan Arkeologi FIB Universitas Haluoleo Kendari, meneliti peninggalan Perang Dunia II di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.   Situs ini merupakan situs kompleks militer yang memiliki empat periode. Periode Sekutu (1936-1942), Jepang (1942-1945), Peralihan RIS (1945-1950), dan Lanud (1950 hingga sekarang). Situs berada di dalam kawasan Lanud Haluoleo, Desa Ambaepua, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Penelitian melibatkan 5 orang peneliti Balar Sulawesi Selatan, mahasiswa, dan dosen Universitas Haluoleo, Kendari. Penelitian pada tahun 2016 dilakukan dengan survey dan ekskavasi. Survei dilakukan dengan membagi lahan situs seluas 10 kilometer persegi dalam 5 sektor. Survei dilakukan dengan sistem jalur dimana setiap jalur ditangani oleh satu kelompok peneliti dengan tujuan semaksimal mungkin menemukan obyek struktur pada area situs.  Hasil survey kemudian ditelaah tim dan menentukan kotak ekskavasi. Ekskavasi bertujuan untuk menemukan data yang tertimbun dan mengumpulkan data vertical pada sisa reruntuhan yang sulit diidentifikasi fungsinya hanya lewat survei.

Penelitian ini juga untuk menguji data-data dokumen asing, baik peta maupun informasi periode Jepang dan Sekutu. Tim peneliti telah menemukan 150 titik obyek dengan beragam fungsi dan merupakan situs peninggalan Jepang yang penting dan terpadat temuannya yang pernah ditemukan di wilayah kerja Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Temuan yang dominan terdiri dari Bungker Peninggalan Jepang Pada Perang Dunia II, sebanyak 52 buah. Bungker-bungker terhimpun berderet indah pada sisi sungai. Rata-rata bungker memiliki panjang 7 meter, lebar 2 meter dan tinggi 1,7 meter. Selain bungker juga ditemukan sisa peninggalan Jepang berupa barak, gudang amunisi, dan bekas tempat parkir pesawat tempur Jepang serta artefak lepas lainnya. Di luar kompleks ditemukan pula struktur bekas rumah para Jugun Ianfu dan beberapa bunker di luar zona inti. Dengan luas dan kompleksnya situs ini, diperlukan penelitian yang lebih diperluas lagi dikemudian hari serta pengembangan dan pemanfaatan yang berdimensi pendidikan dan wisata minat khusus.

Temuan-temuan arkeologis yang ditemukan dan data-data lainnya memperlihatkan banyak informasi menarik untuk memberi pengalaman unik serta nilai penting dari aspek ideologis (jati-diri/karakter bangsa), akademis (pendidikan/penelitian), dan ekonomi (pariwisata). Dari sisi ideologis situs ini dapat memperteguh kebangsaan dengan melihat aspek pengorbanan anak bangsa di masa lalu dan pentingnya meneguhkan nilai perdamaian, nilai penting mempertahankan kemerdekaan; dari sisi pendidikan, situs ini dapat memberi pengayaan tentang wawasan kedirgantaraan dan pertahanan. Nilai penting lainnya dari sisi ideologis dan pendidikan:

  • Memori kolektif pentingnya menjaga jiwa patriotik dan semangat kebangsaan
  • Mengingatkan pentingnya menjaga kemerdekaan dan NKI  mengingatkan banyaknya korban Romusha dalam pembangunan infrastruktur Perang
  • Menunjukkan interaksi penting nilai kemanusiaan terhadap perkembangan arsitektur/ teknologi, khususnya wawasan kedirgantaraan;
  • Unik dan mewakili gambaran tradisi yang luar biasa pola pertahanan Jepang
  • Merupakan salah satu contoh menonjol dari karya arsitektur/ teknologi Perang Dunia II;
  • Merupakan salah satu contoh menonjol dari KOMPLEKS pemukiman militer yang unik dan terintegrasi;
  • Secara langsung terkait dengan sejarah dunia
  • Monumen yang penting untuk meningkatkan kesadaran pentingnya perdamaian

Nilai penting dari sisi pariwisata juga sangat strategis, mengingat lokasi situs sangat dekat bandara, sehingga dapat menjadi area tour transit, event liburan siswa, wisatawan lokal, komunitas untuk outbound, family gathering dan adventure (jalan atau berkuda). Untuk pariwisata situs ini sangat baik dikembangkan karena juga memiliki hutan alami, sungai dan padang luas yang indah. Pengelolaan situs dapat memberi dampak pada keterlibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaannya. Untuk itu, Tim peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Selatan memandang perlu dukungan pemerintah daerah (kabupaten/propinsi) dalam penataan ruang fisik situs dan manajemen pengelolaan bersama Lanud Haluoleo, swasta ataupun komunitas. (Tim Peneliti 2016).

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas