.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

BUNGKER DI SITUS LAPANGAN TERBANG KENDARI II

Kendari - Tahun 2016, Balai Arkeologi Sulawesi Selatan melakukan penelitian di situs Lapangan Terbang Kendari II. Sebelumnya, pada tahun 2012 Balai Arkeologi Sulawesi Selatan telah melakukan penelitian tentang Jejak-Jejak Sejarah Kebudayaan Sulawesi Tenggara Daratan, dimana salah satu potensi tinggalan arkeologi yang berhasil diidentifikasi adalah keberadaan 42 bangunan dari masa Perang Dunia II di kawasan LANUD HALU OLEO, Kabupaten Konawe Selatan-Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sebagai tindak lanjut dari penelitian tersebut, dilakukan penelitian yang lebih intensif di kawasan Lanud Halu Oleo. Hasilnya, diperoleh informasi baru tentang jumlah keseluruhan titik lokasi yaitu 152 titik lokasi temuan, diantaranya: 23 titik temuan gudang amunisi, 19 titik temuan revetment, 52 titik temuan bungker, 50 titik temuan sisa struktur, dan 8 titik temuan fitur.

Selain itu, hasil penelusuran sumber-sumber sejarah diperoleh informasi bahwa sebagai Pangkalan Angkatan Udara, situs Lapangan Terbang Kendari II telah direncanakan pembangunannya sejak tahun 1936 dan mulai direalisasikan sekitar tahun 1937. Pangkalan Udara ini kemudian diambil alih oleh militer Jepang pada Februari 1942. Dan untuk mendukung kekuatan – udara – militernya, Jepang kemudian menjadikan Lapangan Terbang Kendari II sebagai salah satu pangkalan udara di wilayah pasifik barat daya. Pangkalan udara ini kemudian dilengkapi dengan berbagai sarana pertahanan berupa revetment, bungker, dan sarana pertahanan lainnya.

            Bungker adalah bangunan pertahanan paling dominan yang ditemukan di Situs Lapangan Terbang Kendari II. Jumlah keseluruhan bangunan bungker di kawasan ini adalah 52 titik lokasi temuan. Sebaran titik lokasi paling banyak berada di sisi selatan landasan pacu Lapangan Terbang Kendari II. Bunker atau bungker dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai lubang perlindungan di bawah tanah atau ruangan yang dipakai untuk pertahanan dan perlindungan dari serangan musuh.

Umumnya, bungker-bungker tersebut berada di sekitar struktur bangunan yang kemungkinan dulunya berfungsi sebagai barak, bangunan administrasi, dan workshop. Saat ini, bungker-bungker tersebut masih dalam kondisi baik, namun ada pula yang telah hancur. Bungker-bungker yang dalam kondisi baik masih dapat diamati bentuk maupun ukurannya. Sebagian besar memiliki bentuk yang serupa yaitu bentuk trapesium (menyerupai huruf Z) dengan dua pintu masuk yang terletak pada masing-masing bagian ujungnya.

Keseluruhan konstruksi bungker terbuat dari beton, bagian pintu berada di atas permukaan tanah, sementara bagian dalam (terowongan) yang dihubungkan dengan tangga berada di bawah permukaan tanah. Sebagian besar pintu masuk pada bungker berada pada posisi yang tidak berhadapan dengan mulut terowongan, meski ada pula yang berhadapan dengan mulut terowongan.

Ukuran pintu masuk bungker yaitu tinggi 120 cm, lebar 80 cm; sementara bagian terowongan memiliki ukuran panjang antara 640 – 730 cm, lebar antara 114 – 140 cm, dan tinggi 145 cm. Pada bagian dalam terowongan, terdapat tempat duduk yang terbuat dari beton yang menempel pada sisi samping terowongan (UNDINK).  

 

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas