.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Jejak Tradisi Magalitik di Situs Tinco Soppeng

Kamis, 23 Februari 2017

Administrator

Prasejarah

Dibaca: 748 kali

Soppeng - Situs Tinco terletak di Kelurahan Ompo, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Luas situs adalah sekitar 35 hektar, di bagian selatan dengan jarak 200 meter dari Sungai Lawo. Situs Tinco mempunyai berbagai jenis temuan yang menunjukkan ciri situs permukiman masa lalu, seperti monumen-monumen megalit (lumpang batu, dakon, susunan batu temu gelang, batu bergores/bergambar, fragmen tembikar dan tulang binatang) serta delapan menhir yang dijadikan sebagai nisan makam Islam. Jenis temuan yang mempunyai jumlah paling tinggi adalah lumpang batu. Lumpang batu yang ditemukan di Tinco terbuat dari batu vulkanik yang mempunyai satu, dua dan tiga lubang dengan ukuran lubang rata-rata yaitu kedalaman lubang 20 cm, diameter lubang 22 cm. Terdapat juga lumpang yang mempunyai lubang-lubang dakon pada bahagian yang sama dalam satu batu. Keseluruhan lubang pada lumpang batu mempunyai permukaan lubang yang halus. Keadaan ini disebabkan oleh lumpang batu tersebut sering digunakan untuk menumbuk.

Di situs Tinco terdapat beberapa titik penting yang mempunyai hubungan dengan peristiwa atau tokoh yang bersifat mitos seperti Lakelluaja (peristiwa raibnya tomanurung ketika sedang menggunting rambutnya), Petta Pallaongrumae (mitos tentang tokoh yang membawa pengetahuan berkaitan dengan pertanian)dan Petta Passaunge (mitos tentang tokoh yang memiliki kesenangan menyabung ayam), Matoa Tinco (tempat raibnya matoa pertama di Tinco), Allangkanange (bekas berdirinya istana pertama raja Soppeng Barat).

Keterangan dari penduduk lokal bahwa batu yang mempunyai goresan-goresan berbaris seperti itu adalah hasil dari aktivitas masyarakat untuk mengasah tombak. Pada masa lalu masyarakat masih gemar berburu binatang rusa di hutan. Sumber lisan dari penduduk lokal (Anwar Akib, 61 tahun, komunikasi peribadi, 28 maret 2015) mengemukakanbahwa di beberapa daerah di Soppeng, kegiatan mengasah ujung tombak masih sering dilakukan untuk tujuan berburu binatang. Kehadiran gambar rusa pada batu tersebut juga memperkuat anggapan bahwa aktivitas berburu binatang pernah dilakukan di Tinco. Goresan yang berbentuk gambar bertanduk yang bercabang (bentuk rusa) itu terletak di tepi batu yang berbentuk lonjong, sedangkan pada bagian permukaannya terdapat goresan garis sejajar dengan lubang-lubang dakon. Baik goresan garis sejajar maupun goresan berbentuk gambar rusa merupakan bentuk pengetahuan nenek moyang yang mengandung simbol pengetahuan dan tahap teknologi yang dimiliki pada masa itu.

Temuan lain yang menarik adalah empat batu bergores/bergambar yang mempunyai bentuk goresan berupa garis sejajar di atas batu dan juga salah satu batu lain yang mempunyai gambar binatang menyerupai rusa berasosiasi dengan garis-garis sejajar dan garis segi empat. Bentuk goresan sejajar merupakan perilaku dari orang-orang yang melakukan aktivitas untuk tujuan tertentu. Kemungkinan besar bentuk goresan yang panjangnya adalah dari 4-11 cm itu digunakan sebagai alat mengasah atau meruncingkan tombak besi. Asumsi ini diperkuat dengan batu yang mempunyai dua lubang dengan garis sejajar dan lubang-lubang di sekitarnya (Sumber : Penelitian Balai Arkeologi Sulawesi Selatan 2016).

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas