.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Rampi

Masyarakat Rampi masa lampau adalah salah satu masyarakat yang mendasarkan pandangan hidup pada pemujaan arwah leluhur dengan tradisi megalitik. Hal ini dapat terlihat dari peninggalan sejarah budaya yang masih tersimpan sampai saat ini. Berdasarkan data wawancara yang dilakukan terhadap salah seorang Tekei di Rampi, beliau menuturkan bahwa sejarah manusia pertama sampai muncul di permukaan bumi adalah berasal dari keturunan manusia pertama yang mendiami wilayah budaya Rampi sampai saat ini.

Manusia pertama yang turun di permukaan bumi adalah empat orang bersaudara yang saling kawin mawin dan menghasilkan keturunan sampai pada keturunan Tekei Tongko saat ini. Perkawinan antar saudara (incest) ini terus berlanjut sampai pada keturunan selanjutnya sampai masuknya pengaruh dan penyebaran agama di wilayah ini. Adapun silsilah keturunan yang masih menjadi ingatan kolektif para tetua dan Tekei yang menjabat di wilayah budaya ini dapat dilihat pada garis silsilah yang terlampir (gambar 1).

Sejarah masyarakat Rampi tidak terlepas dari pengaruh masyarakat Kulawi dari Sulawesi Tengah saat ini. Kulawi sebagai satu suku pada masa lampau merupakan suku bangsa yang senang melakukan eksplorasi dan penjelajahan wilayah. Suku ini berada di sekitar wilayah Lindu, Lore selatan di lemba Poso, Sulawesi Tengah saat ini. Wilayah ini terletak di sebelah barat sungai Poso. Berbicara tentang suku Kulawi tidak adakan terlepas dari sejarah masyarakat Rampi. Kedua kelompok masyarakat ini memiliki kesamaan bentuk budaya, termasuk pembuatan kulit kayu.

Komunitas masyarakat Rampi beraktivitas dibawah hukum adat tradisional Rampi atau Ada’ Woi’ Rampi, yang berarti Adat Budaya Tanah Rampi. Aturan tentang aktivitas kehidupan masih sangat dipegang teguh oleh para ketua adat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa data sejarah menyebutkan bahwa komunitas adat ini memiliki aturan tentang kepemilikan dan batas-batas wilayah disertai dengan jenis pelanggaran dan dendanya, aturan tentang pemanfaatan hasil hutan, aturan tentang tata cara bercocok tanam, panen, dan waktu pelaksanaannya, aturan tentang pembukaan lahan baru pertanian, aturan tentang perkawinan dan perceraian, aturan dan denda terhadap pelanggaran tentang kekerasan dan perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, perjudian, fitnah dan hasut, aturan tentang hak waris, aturan tentang kelahiran dan kematian, serta aturan tentang seni dan budaya (termasuk di dalamnya alat musik, tari-tarian, seni bela diri), aturan-aturan adat ini masih dipertahankan sampai saat ini.

Adapun pemimpin yang dipercayakan sebagai ketua adat adalah salah seorang keturunan langsung dan masih memiliki darah murni keturunan Rampi. Ketua adat yang dalam bahasa budaya Rampi disebut sebagai Tekei Tongko berperan menjalankan dan menerapkan aturan adat ini. Seorang Tekei Tongko dibantu oleh sebelas orang dewan adat yang masing-masing memiliki peran dan wewenang tersendiri dalam menerapkan aturan adat ini. Penggunaan wewenang ini tentunya dengan restu dan izin dari Tekei Tongko sebagai Ketua Adat Wilayah Rampi. Susunan dewan adat tersebut antara lain:

1.     Tekei Bola       : Ketua Adat masing-masing Desa di Rampi.

2.     Balolae’           : Pengawal Tekei

3.     Kabilaha          : Hakim yang memutuskan sanksi adat

4.     Tadulako         : Panglima Perang

5.     Peko Alo         : Pemberi Informasi (berita)

6.     Towolia           : Tabib (Dukun)

7.     Toponolulu’     : Pemimpin Religi

8.     Pantua             : Bendahara Adat

9.     Pongkalu         : Kepala Kelompok Tani

10.  Pobeloi            : Ketua adat Kehutanan

11.  Timoko’          : Ketua adat Peternakan

(sumber : wawancara dengan Bapak Paulus Sigi sebagai Tekei Tongko)

Bentuk seni tradisional yang masih dipertahankan oleh komunitas adat ini antara lain Dengki’, Dulua, dan Raigo. Bentuk kesenian tradisonal ini masih dilaksanakan sampai saat ini dan dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu berkaitan dengan upacara adat yang dilaksanakan. 

Perkembangan sejarah kebudayaan Rampi nampaknya juga mengalami masa pendirian bangunan megalitik dan pemujaan arwah leluhur. Hal ini terlihat dari ditemukannya sebaran peninggalan budaya megalitik di sepanjang wilayah budaya Rampi. Selain temuan berupa arca batu, pada beberapa situs juga ditemukan sebaran fragmen tembikar bahkan ditemukan pula sebaran artefak batu dan manik-manik di beberapa situs yang disurvei. Hal penting yang menjadi perhatian adalah masih ditemukannya beberapa tradisi berlanjut yang masih dilakukan oleh masyarakat Rampi, sebagai contoh yaitu pembuatan pakaian dari kulit kayu yang menggunakan peralatan dari alat batu (batu ike). Peralatan pembuatan pakaian kulit kayu oleh masyarakat Rampi dinamakan batu Pehaha’.

Penamaan batu Pehaha’ ini sendiri merupakan penamaan baru yang tim temukan, mengingat untuk sebagian besar wilayah nusantara menamakan jenis batuan tinggalan arkeologis seperti ini adalah batu ike. Batu ike sendiri merupakan  penamaan yang lazim ditemukan di sekitar daerah lembah Poso di Sulawesi Tengah. Nampaknya penamaan ini masih merujuk pada satu bahasa ibu yang sama, yaitu bahasa austronesia.

Meskipun kemahiran beberapa masyarakat Rampi dalam pembuatan pakaian dengan bahan dasar kulit kayu sudah tidak diragukan lagi, namun pakaian yang digunakan saat ini sudah mengikuti tren pemakaian baju dari bahan kain modern. Kemahiran pembuatan pakaian kulit kayu ini diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Demikian pula dengan perangkat alat batu ike yang digunakan merupakan peralatan yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Pembuatan pakaian dari kulit kayu sampai pada masa kini sudah tidak dilakukan lagi. Masyarakat cenderung lebih memilih aktivitas yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin banyaknya tingkat kebutuhan masyarakat mengakibatkan masyarakat yang pandai mengolah kulit kayu menjadi pakaian semakin berkurang.

Transformasi tradisi ini menjadikan aktivitas pembuatan pakaian kulit kayu menjadi sesuatu yang langka. Sampai saat penelitian ini dilakukan, tim penelitian hanya menemukan satu orang warga yang masih dan mampu mengolah kulit kayu menjadi pakaian. Salah seorang warga yang mampu membuat pakaian kulit kayu tersebut bernama “Ibu Herlina Sinta atau Mama Fery”. Peralatan dan kemampuan membuat pakaian kulit kayu tersebut pun didapatkan dari warisan nenek dan buyut keluarganya.

Nampaknya pembuatan pakaian kulit kayu ini hanya menjadi sebatas pemenuhan pesanan dari pemerintah daerah –kecamatan atau kabupaten – untuk dijadikan sebagai bahan pameran pada saat event Pameran Pembangunan Daerah dilaksanakan. Pembuatan pakaian kulit kayu seringkali juga dilakukan hanya untuk pemenuhan pesanan dari kolektor bahan antik dari luar Rampi. Mengingat waktu dan proses pembuatan pakaian kulit kayu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, maka pemesanan pakaian kulit kayu biasanya dilakukan 1 sampai 2 bulan sebelum pakaian kulit kayu dapat diambil.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas