.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Hasil Penelitian Arkeologi Menjadi Pertimbangan dalam Mengubah Kebijakan Rencana Penambangan Marmer di Buttu Batu, Enrekang, Sulawesi Selatan

Selasa, 20 Februari 2018

Administrator

Umum

Dibaca: 380 kali

Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan berlokasi sekitar 276 kilometer dari Kota Makassar. Secara geografis berada di wilayah pegunungan dan hampir sebagian daerah ini terdiri dari pegunungan karst (batu kapur). Dari hasil penelitian arkeologi sejak 2002 hingga sekarang membuktikan bahwa Enrekang memiliki situs-situs arkeologi sebagai bukti kebesaran peradaban masyarakatnya. Di wilayah Enrekang tersebar situs-situs prasejarah, situs masa Islam awal dan bangunan Kolonial. Disamping kekayaan sumber daya arkeologi, daerah Enrekang juga memiliki berbagai potensi bahan galian yang tersebar di berbagai kecamatan, seperti minyak bumi, batubara, emas, perak, logam dasar (Cu, Pb, Zn), marmer, pasir kuarsa, koalin (http://hpmmkomunhas.blogspot.co.id/).

Dengan kekayaan alam yang dimiliki Enrekang, menyebabkan investor dari PT Arung Bungin Group (ABG) berkeinginan melakukan penambangan marmer. Namun rencana itu ditolak oleh masyarakat dengan alasan merusak sejumlah situs-situs arkeologi yang tersebar terutama di Desa Buttu Batu, Kecamatan Enrekang. Penolakan masyarakat disampaikan melalui audiens dengan Bupati (23/5/2017) dan DPRD Sulawesi Selatan. Salah satu pertimbangan masyarakat menolak penambangan marmer karena di dalam lokasi penambangan yang luasnya 75 hentar lebih terdapat cagar budaya peninggalan nenek moyang masyarakat Enrekang (09/2/2017). Di Desa Buttu Batu terdapat situs arkeologi yang sangat penting karena memiliki indikasi kuat mengenai kehidupan manusia sejak sekitar 3500 tahun yang lalu. Hasil penelitian arkeologi telah diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Enrekang dan Kepala Desa Buttu Batu.

Dengan alasan demi menyelamatkan situs-situs arkeologi, menyebabkan rencana penambangan marmer di Desa Buttu Batu dan desa-desa lainnya dibatalkan pelaksanaannya. Hal ini berarti bahwa hasil penelitian arkeologi di Buttu Batu oleh Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, dijadikan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam mengubah kebijakan pemerintah demi merespon keinginan masyarakat untuk melestarikan budaya dan lingkungannya. (Hasanuddin dan Bernadeta)

Sumber foto : Masyarakat Buttu Batu dan mahasiswa Enrekang melakukan audiens dengan DPRD Sulsel terkait penolakan Izin Tambang Marmer oleh PT Arung Bungin Group (http://berita-sulsel.com)

 

Berita Terkait

    Komentar via Facebook

    Kembali ke atas