.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Wotu

Wotu sekarang merupakan nama sebuah kecamatan dalam wilayah administrasi Kabupaten Luwu Timur. Wilayah ini terletak pada formasi dataran alluvial pantai Teluk Bone di suatu lembah sebelah barat Sungai Kalaena atau secara astronomi berada pada posisi 2°36’935” Lintang Selatan dan 120°48’156” Bujur Timur. Secara umum bentang alam Wotu tersusun oleh morfologi dataran rendah, merupakan daerah rawa dan perbukitan yang berdasarkan prosentase kemiringan lereng dan beda tinggi relatif. Wotu terdiri dari beberapa satuan morfologi, yaitu satuan morfologi pedataran, pedataran bergelombang lemah dan satuan pedataran bergelombang kuat. Penduduknya terdiri dari dua komunitas  besar, yaitu orang Wotu dan Bugis yang basis pencahariannya adalah petani dan nelayan. Di dalam kawasan Kecamatan Wotu juga digunakan dua bahasa, yaitu bahsa Wotu  yang dituturkan oleh orang Wotu asli yang diduga mempunyai hubungan linguistik dengan bahasa Muna-Buton (Wolio) dan bahasa Bugis yang dianggap bahasa para migran dari negeri selatan. Namun, masyarakat Wotu sehari-hari sangat unik dalam komunikasi dibandingkan dengan daerah Luwu lainnya, karena orang Wotu bisa menggunakan dua bahasa tersebut (bilingual) (lihat, Fadillah dan Hakim, 1998).

Sejarah Wotu sekarang umumnya tinggal serpihan ingatan orang-orang berumur senja. Informasi-informasi cikal-bakal leluhur dan geohistoris Wotu diperoleh dari sumber tutur. Menurut salah satu tokoh masyarakat Wotu Bapak Arsyad mengatakan Wotu juga pernah memiliki naskah tertulis berupa lontara yang memuat sejarah dan legenda tentang perkembangan masyarakat Wotu sekitar abad XV-XVI M dalam kaitan dengan eksistensi Luwu sebagai sebuah entitas politik berpengaruh di tanah Bugis.

Dinamika sejarah-kebudayaan di atas sangat menarik diinvestigasi. Hal ini untuk memperlihatkan bukti empiris dan menegaskan beberapa hal yang patut dipercaya secara ilmiah dan  bukan sekedar mitos. Sayangnya, hasil investigasi menunjukkan data yang kurang mendukung legenda masa protosejaraah Wotu, sebagaimana tergambarkan pada situs-situs di bawah ini;

Situs Mulataue, toponim Mulataue seperti yang diceritakan dalam legenda Wotu sebagai suatu daerah yang menjadi asal penguasa Luwu atau tempat dimana Batara Guru dan Oro Keling membuka ladang pertama kalinya. Dari investigasi yang dilakukan oleh tim Balar tahun 2008, situs ini sekarang hanya tampak merupakan tanah pertanian yang basah dan selalu banjir akibat terkonsentrasinya air hujan setelah pada bagian timur areal ini dibangun tanggul. Sampai sekarang, penduduk masih menanam padi dan beberapa ladang palawija di sela-sela persawahan, Pada saat investigasi arkeologis dilakukan, daerah ini dalam keadaan pasang sehingga sulit mencapai pusat yang disebut sebagai ”Mulataue”.

Jika melihat kondisi situs ini yang terus dibajak, maka kemungkinan besar apabila benar tempat ini adalah sebuah situs, maka sisa pemukiman yang pernah ada bisa sangat terganggu (distrub). Demikian pula, banjir akan menyulitkan pengamatan secara arkeologis. Kondisi situs yang demikian, sehingga tidak ditemukan artefak yang dapat membuktikan legenda di atas.

Situs Bukit Lampanae; dalam bahasa Wotu “Lampanae” gunung yang menyerupai parang. Bukit Lampenae terletak di sebelah timur laut kota Wotu yang dipisahkan dengan dataran rendah (rawa) dengan dataran tinggi di bagian utara. Kunjungan tim Balar di bukit ini belum berhasil menemukan artefak yang menunjang bahwa tempat ini sebagai suatu pemukiman tua, sebagaimana yang diceritakan dalam lagenda Luwu yang menyebut bahwa tempat ini sebagai kampung awal dari Sawerigading. Bukit Lampanae ditumbuhi pepohonan yang cukup rimbun sehingga menjadi hutan sekunder. Pada bagian bukit yang tersingkap tampak terlihat lapisan batuan beku dan breksi.

Situs Benteng Wotu; termasuk dalam wilayah Desa Lampenai, Kecamatan Wotu. Keadaan sekarang hanya berupa sisa gundukan tanah yang ditutupi rerumputan dan terletak di antara permukiman penduduk yang padat. Akibat perluasan pemukiman dan pembuatan jalan, sehingga dinding benteng yang tersisa tinggal sekitar 20%.. Menurut keterangan penduduk setempat, benteng ini berbentuk persegi dan di dalamnya terdapat sebuah sumur tua dan makam (sekarang masih ada).

Pada kompleks bentang ini juga terdapat beberapa toponim yang berkaitan dengan eksistensi pusat politik Wotu, yaitu Saleko dan Bangkolo. Bangkolo menurut keterangan penduduk sebagai tempat pelantikan raja dan Saleko hanya berupa gundukan tanah setinggi 50 meter yang terletak di tepi sungai. Artefak yang ditemukan dalam survei tahun 2008 ini hanya berupa pecahan keramik Cina dari abad kemudian 16-17 M dan keramik Eropa abad 18-19 M. Hal ini, memberi petunjuk bahwa bentang ini dipergunakan pada masa Islam.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas