.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Napo

Sabtu, 21 Mei 2016

Administrator

Islam

Dibaca: 500 kali

Situs Napo

Survei yang dilakukan di beberapa situs dalam wilayah bekas Kerajaan Balanipa, menunjukkan bahwa Kerajaan Balanipa pada masa lalu telah melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang dengan ditemukannya berbagai jenis keramik. Sumber tutur pun juga memberi keterangan akan kebesaran masa lalu Balanipa, namun sangat disayangkan karena bukti sejarah masa lalu Balanipa sangat sedikit yang ditemukan jika dibandingkan dengan benda yang seharusnya ada, karena di beberapa situs penting telah digali secara illegal oleh para pencari harta karun. Informan kami yang sekaligus pernah melakukan penggalian illegal menyebutkan bahwa beberapa keramik dari berbagai dinasti telah diperoleh di sektor Saleko dan Rondong dan dijual. Sisa-sisa temuannya yang telah pecah tersisa di beberapa situs, seakan memberi petunjuk akan kebesaran masa silamnya.

Dalam konteks situs Napo sebagai bekas awal Kerajaan Balanipa di Mandar terdapat beberapa variabilitas temuan dalam radius 17.600 m2 yang kini sebagian besar telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan perkebunan. Satu-satunya lokasi dalam radius Napo yang tidak digunakan sebagai lahan perkebunan adalah makam Todilaling yang telah diberi pagar di sekelilingnya. Gelar Todilaling bagi raja pertama Balanipa itu diberi oleh masyarakat setelah meninggal. Pada masa hidupnya bernama I Manyambungi.

Makam I Manyambungi terletak di atas bukit Napo Kelurahan Napo, Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali Mandar  119° 02¢ 14.4² BT dan 03° 28¢ 10.2² LS dengan ketinggian 801 ft di atas permukaan laut. Situs Napo dikelilingi oleh buttu (gunung) dan lembah yang erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kerajaan Balanipa seperti Tammejarra dan bekas pelabuhan Gadde terletak di sebelah selatan, sebelah timur laut (60o) terletakgunung Mosso dan situs Todang-Todang  di sebelah utara (20o), dan barat laut terletak situs Samasundu, sebelah barat lembah/perkampungan Napo. Keseluruhan situs itu (Tammejarra, Mosso, Todang-Todang, Samasundu) merupakan appe banua kayyang (empat kampung besar) yang merupakan daerah pappuangan (persekutuan) kerajaan Balanipa.

Di puncak bukit Napo terdapat 2 batu yang ditancapkan sebagai tanda penguburan. Namun tidak ada yang mengetahui secara pasti identitas orang yang dimakamkan di tempat itu. Namun yang jelas bahwa batu yang ditancapkan itu masih disakralkan hingga sekarang dan seringnya para pezirah mengunjunginya, bahkan sebagian besar dari pengunjung bernazar di tempat itu yang dibuktikan dengan adanya ikatan-ikatan kain pada nisan dan juga pada pohon besar yang terletak di sampingnya. Di tengah-tengah bukit terdapat pohon beringin yang besar dan di dalamnya terdapat makam dengan nisan pipih berada di antara batang pohon tersebut. Informan kami menyebutkan bahwa makam yang terdapat di antara batang pohon beringin itu adalah makam I Manyambungi yang merupakan raja Balanipa I bergelar Todilaling. Nisan makam sulit diukur karena terjepit oleh pohon yang berakar besar. Dua makam di antaranya termasuk nisan baru yang belakangan ini masyarakat memberi tanda berupa kain putih sebagai proses perilaku masyarakat yang menziarahinya. Keseluruhan makam yang terdapat di puncak bukit masih sering mendapat perlakukan istimewa dari masyarakat yang mengunjunginya.

Menurut Buku inseklopedia Mandar dikisahkan bahwa pada masa pemerintahan raja Gowa ke-9 yang bergelar Tumapa’risi Kallonna sekitar abad ke-16 M, I Manyambungi menjadi pemimpin pasukan Gowa menyerang kerajaan Lohe (kerajaan Lohe yang dimaksud dalam buku tersebut tidak dijelaskan tempatnya secara rinci). Namun atas saran dari para Tomakaka di Mandar, I Manyambungi selanjutnya diajak untuk kembali ke Mandar dan ajakan itu dipenuhinya, kemudian I Manyambungi dinobatkan sebagai raja I di Mandar dan pemerintahannya kemudian menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan Mandar.

Namun setelah meninggal I Manyambungi, tahta kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Tonipayung dan pusat pemerintahan ketika berpindah dari Napo ke Tammejarra. Tidak jelas faktor yang melatarbelakangi perpindahan pusat pemerintahan Balanipa ketika itu, namun yang jelas bahwa dengan berpindahnya pusat pemerintahan kerajaan Balanipa ke Tammejarra mengindikasikan tidak terjadinya sentralisasi berdasarkan wilayah pemerintahan tertentu, dan dalam wilayah kekuasaan pemerintahan kerajaan Balanipa koordinasi pelaksanaan pemerintahan tetap dijalankan meskipun daerah itu berpindah dari pusat ke daerah lain.

Beberapa toponim penting yang erat kaitannya dengan seperti pelabuhan dan situs pasar, yang kesemuanya turut memberi andil bagi terselenggaranya proses pemerintahan yang berbasis ekonomi. Situs pasar yang dulu berperan sebagai pusat pertukaran barang itu, kini hanya merupakan lahan kosong yang terletak di atas bukit sekitar 1,5 km ke arah utara dari situs Napo. Bagian tenggara dari Napo terletak situs pelabuhan yang disebut Gadde suatu toponim penting sebagai jalur pelayaran masuk dan keluarnya pelayaran. Situs Pelabuhan Gadde terletak di desa Barura, kecamatan Tinambung. Situs itu sangat potensial dan memiliki peranan yang cukup penting dalam perjalanan pemerintahan kerajaan Balanipa. Peran pelabuhan dalam sistem transportasi juga berfungsi sebagai penunjang kegiatan industri dan perdagangan yang juga sebagai pintu gerbang kegiatan perekonomian yang memiliki fasilitas untuk memindahkan barang dari kapal ke darat atau sebaliknya. Pelabuhan Gadde memiliki akses melalui muara sungai Napo hingga ke Todang-Todang dan Mosso (di sebelah timur laut Napo) yang menghubungkan pelabuhan dengan wilayah pusat kerajaan Balanipa pada masa kerajaan. Jarak pelabuhan Gadde dengan muara sungai Napo berkisar 4 km. Namun dewasa ini digunakan sebagai dermaga untuk bongkar muat bagi kapal kayu dari Kalimantan.

Di sebelah barat daya dari bukit Napo terletak lokasi pertama permukiman pemangku adat yaitu di sektor Saleko. Lokasi sektor masih merupakan lereng bukit Napo berjarak sekitar 500 m. Situs itu merupakan situs permukiman dengan indikasi fragmen keramik dan gerabah yang cukup banyak tersebar di permukaan situs. Dari segi farmentasi, sektor itu memang mengindikasikan sebagai lokasi permukiman masa lalu yang sangat potensial sebab mengandung fragmen keramik yang sangat tinggi dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Mencuatnya berbagai jenis artefaktual di sektor itu lebih bersifat transpormasi non-cultural yaitu adanya kegiatan masyarakat yang senantiasa mengolah lahan perkebunannya. Untuk kepentingan identifikasi dan analisis, maka dalam kegiatan survei di sektor Saleko, fragmen gerabah dan keramik hanya diteliti fragmen-fragmen yang dianggap mewakili jenisnya. Hal itu dilakukan mengingat begitu banyak fragmen yang tersebar di permukaan situs  dan jika keseluruhan fragmen diambil untuk dijadikan sampel analisis maka dihawatirkan akan lenyap data yang dikandungnya. Meskipun disadari bahwa fragmen yang dijadikan sampel masih minim karena hanya diambil satu atau dua fragmen dari setiap jenisnya, namun sampel itu dianggap cukup representatif  karena dari jenis yang ada terwakili oleh setiap jenis sampelnya. Demikian juga halnya dengan fragmen gerabah, pemetikan sampel dilakukan pada bentuk fragmen yang berjelaga, berhias dan berselip dan memiliki bentuk khusus yang juga mewakili setiap jenisnya. Namun untuk fragmen gerabah tidak dilakukan perhitungan kuantitas temuan dalam bentuk tabulasi karena keberadaan benda itu hanya sebatas memberi informasi tentang bentuk dan jenis benda yang pernah digunakan dan semuanya berindikasi pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain itu, juga ditemukan fragmen kaca dan moluska darat (fresh water) dan marine.

Berbeda halnya dengan fragmen keramik, selain digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan nilai status yang tinggi, keberadaan benda itu juga dapat memberi kisaran kronologi secara relatif. Kisaran waktu yang ditunjukkan oleh keramik dapat memberi asumsi mengenai waktu berlangsungnya kontak dengan daerah atau negara lain. Hasil identifikasi dan analisis fragmen keramik menunjukkan kisaran waktu antara abad ke-13 sampai abad ke-19. Dengan demikian, sebelum Napo menjadi pusat kerajaan Balanipa (sekitar abad ke-16) telah berlangsung suatu bentuk permukiman dan mungkin memang dihuni oleh sistem masyarakat yang dikoordinasi oleh tomakaka (kepala kampung) yang dipilih dari kalangan mereka sendiri. Mereka menjalankan pemerintahan dan mengatur daerahnya sesuai potensi daerahnya. Meskipun demikian, koordinasi akan pelaksanaan pemerintahan tetap dikoordinasi oleh Napo sebagai “bapak” yang menaungi kelompok perkampungan (pappuangan) yang tergabung dalam appe banua kayyang (Napo, Samasundu, Mosso, dan Todang-Todang). Otonomisasi yang dijalankan masing-masing daerah adat mencerminkan kebebasan dalam menjalankan pemerintahan dengan tetap mempertimbangkan kedudukan Napo sebagai pangayom dari seluruh wilayahnya. Hasil survei yang dilakukan tim Balai Arkeologi Makassar (2003) di keempat lokasi itu menunjukkan bahwa kandungan artefaktual temuan untuk masing-masing situs memiliki tingkat variabilitas data yang kurang lebih sama. Sesuai hasil analisis keramik, maka kisaran waktu relatif adanya aktivitas di masing-masing situs antara abad XV-XIX M. Hal itu sesuai dengan data yang diperoleh dari letaratur bahwa kerajaan Napo telah berlangsung sejak abad ke-16 M.

Sektor lain yang juga memiliki keterkaitan dengan kerajaan Balanipa adalah bekas pasar (Litta Pute). Areal bekas pasar itu terletak di sebelah utara dari bukit Napo yang juga masih merupakan lereng dari bukit Napo. Survei yang dilakukan di lokasi itu menunjunjukkan bahwa keseluruhannya hanya mengandung beberapa fragmen gerabah dan keramik, namun juga telah teraduk oleh aktivitas perkebunan. Besar dugaan bahwa pasar yang pernah memiliki peranan penting pada masa kerajaan Balanipa keberadaannya diperkirakan pada masa kemudian yaitu sekitar akhir abad ke-19. Dugaan itu diperoleh dari keterangan beberapa penduduk yang masih mengenang kisah dari orang-orang tua di Napo yang dengan leluasa menceritakan proses pertukaran barang yang pernah berlangsung di pasar tersebut ketika berada dalam konteks sistemnya. Memang dugaan itu terkesan tergesa-gesa, namun dalam sumber naskah tidak menyebutkan toponim atau pertukarang barang yang pernah berlangsung dalam wilayah Napo. Terlepas dari kisaran waktu berlangsungnya proses pertukaran yang pernah berlangsung di pasar itu, namun yang jelas bahwa fragmen keramik yang dijadikan sampel menunjukkan kisaran waktu antara abad ke-16 hingga ke-18 M. Bisa jadi juga bahwa pasar yang dimaksud merupakan lokasi tempat melakukan pertukaran barang dengan barang, namun dibutuhkan serangkaian data yang dapat mendukung interpretasi yang memadai.

Sekitar 750 meter sebelah tenggara yang merupakan lereng Napo terdapat kompleks makam Pappuangan Napo yang memiliki populasi makam 110 dengan luas 20 x 13 meter. Terletak pada titik koordinat 119° 02¢ 05.0² BT dan 03° 28¢ 34.6² LS dengan ketinggian 707 ft dari permukaan laut. Vegetasi sekitar areal tersebut merupakan lahan perkebunan dengan jenis tanaman coklat, kelapa, sukun, dan pisang. Temuan arkeologis lainnya yaitu fragmen keramik sebanyak 45 pecahan dari berbagai bentuk dan dinasti, serta fragmen gerabah.

Secara keseluruhan makam yang ada memiliki badan dan nisan, namun terdapat juga beberapa makam yang hanya memiliki satu atau dua nisan tanpa badan makam. Makam-makam tersebut secara umum memiliki tiga tipe bentuk nisan yaitu gada (di antaranya ada yang bermahkota), pipih hulu keris, dan trisula. Tipe-tipe nisan tersebut secara keseluruhan menyerupai bentuk nisan yang terdapat di Mandar pada umumnya. Makam Pappuangan I memiliki dua nisan yaitu gada dengan variasi bunga mekar dan puncak mahkota serta nisan bentuk hulu keris. Menurut salah seorang informan bahwa bentuk mahkota (bulat) merupakan simbol para pappuangan yang dimakamkan. Dua mahkota pada dua makam terdapat tulisan Arab dengan kalimat Tauhid Allah Muhammad LaaIlaaha Illallah.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas