.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Langkanange (Belawae)

Situs ini merupakan tanah datar dilingkung persawahan yang permukaannya ditumbuhi; pisang, mangga, kelapa, asam, kayu Jawa (nama lokal) dan belukar dengan luas arealnya kurang lebih 25 X 25 meter persegi. Secara administrasi termasuk dalam dusun Bela-belawae, Desa Polewali, Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang dan  secara astronomi (GPS) berada pada posisi 03°56’05.0” Lintang Selatan serta 119°35’17.0” Bujur Timur. Rekaman masa lalu yang didapatkan dari masyarakat sekitar, bahwa situs ini dulunya adalah pemukiman leluhurnya sekaligus menjadi tempat penguburan. Hal ini diperkuat oleh keterangan yang disampaikan bapak La Hudding (73 th) bahwa di situs tersebut pernah ditemukan beberapa guci dan tempayan yang berisi abu jenasah dan tulang terbakar serta benda-benda dari logam.

Kekunoan lain yang terdapat di situs ini berupa makam kuno dengan orientasi timur-barat dan memiliki nisan menhir dengan  ukuran tinggi antara 38 cm sampai 70 cm dari bahan batuan andesit tanpa pengerjaan lanjut. Tidak ada informasi pasti tentang siapa tokoh yang dikubur di situs tersebut, tetapi masyarakat meyakini bahwa orang yang dimakamkam itu adalah leluhur mereka sehingga makam kuno itu mendapat perawatan secara khusus dengan memberi cungkup  seng serta lantainya diberi tegel keramik. Hingga sekarang masyarakat masih sakralkan tempat ini, bahkan sering mayarakat setempat berkunjung ke tempat ini untuk melakukan pemujaan. Indikator aktivitas  pemujaan yang masih dijumpai disekitar makam kuno, antara lain wadah pedupaan, lelehan lilin pada nisan, telur, kelapa bertunas dan daun pandan serta kembang-kembang yang sudah mengering maupun minyak wangi pada nisan.

Indikasi arkeologis lain yang dapat memperkuat  tentang keberadaan situs ini sebagai pemukiman atau lokasi penguburan, yaitu ditemukanya fragmen gerabah yang banyak tersebar di sekitar persawahan dan paling banyak ditemukan pada pematang sawah. Adanya temuan gerabah tersebut memberi penjelasan bahwa kemungkinan areal situs cukup luas sebelum sebagian besar dijadikan sawah. Sayangnya tidak satupun pecahan keramik yang ditemukan, hal ini dikerenakan permukaan situs ditumbuhi belukar yang cukup tinggi.

Jika berdasarkan arah hadap makam dan ditunjang oleh adanya temuan pecahan gerabah serta informasi temuan guci yang berisi abu jenasah diduga bahwa situs tersebut adalah tinggalan dari komunitas masyarakat praIslam. Selanjutnya investigasi arkeologi yang telah dilakukan oleh Steve Druce tahun 2005 menempatkan situs  ini sebagai tempat aktivitas manusia mulai dari abad 13 M (keramik Yuan) hinga abad 17 M (keramik Qing) (Druce, 2005:336). Jika merujuk dari nama ìlangkanangeî, maka besar kemungkinan situs ini merupakan salah satu perkampungan, sebab nama langkanange memiliki arti rumah besar untuk bangsawan.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas