.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Gua Tengkorak Konawe Utara

Gua Tengkorak I (Gua Wawontoaho)

Berada di wilayah administrasi desa Wawontoaho, Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara. Secara astronomi Gua Tengkorak I berada pada titik koordinat 03˚ 12’ 13,3” Lintang Selatan dan 122˚ 07’ 58,6” Bujur Timur (GPS Garmin 60). Sekeliling situs merupakan lingkung perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh pihak PTPN XIV dan perusahaan swasta serta usaha perkebunan milik masyarakat setempat.

Orientasi gua menghadap 15˚ ke utara dengan ketinggian  mulut gua ± 10 meter dari permukaan tanah yang ada disekitarnya atau sekitar 60 meter di atas`permukaan laut. Proses pembentukan gua dari hasil pelapukan batu gamping (limestone) akibat rembesan air yang masuk ke dalam celah-celah batu sehingga terbentuk loronglorong gua. Lebar mulut gua adalah 2,3 meter, panjang 15 meter dan tinggi gua (dari lantai hingga atap gua) adalah 8-11 meter (lihat gambar). Gua ini memiliki banyak celah dan 2 buah lorong yang mengarah ke selatan serta memiliki ornamen, seperti stalagtit dan stalagmit. Selanjutnya intensitas cahaya dalam gua tergolong rendah (remangremang) dan memiliki kelembapan yang tinggi akibat tetesan air dari langitlangit gua yang berlangsung secara terus-menerus sehingga dinding dan langitlangit gua dipenuhi oleh tumbuhan lumut, serta akibat rembesan itu memberi pengaruh permukaan lantai yang sebagian sudah runtuh atau miring.

Sesuai keterangan penduduk setempat bahwa gua ini diperuntukkan sebagai lokasi penguburan leluhurnya. Hal ini, sesuai indikasi arkeologis yang ditemukan dipermukaan gua, seperti tengkorak dan tulang belulang manusia, fragmen keramik (guci atau tempayan), fragmen tempayan gerabah (polos dan hias), fragmen botol kaca, fragmen gelang perunggu, batu giling, fragmen kerang (laut dan darat), fragmen artefak besi  serta manik-manik dan patungpatung tanah liat. Jika melihat frekuensi dan  varian temuan arkeologis di dalam gua ini yang sangat padat, memberi petunjuk bahwa penguburan di gua ini berlangsung secara intensif dari generasi ke generasi, setidaknya hingga jauh memasuki masa sejarah (praIslam). Lanjut dari keterangan penduduk setempat bahwa fragmen keramik dan gerabah yang tersebar dipermukaan gua adalah wadah penyimpanan tulang belulang leluhur mereka, sedang temuan lainnya berfungsi sebagai barang bawaan serta (bekal kubur) ke alam arwah.

Khusus temuan tempayan keramik (baik pecahan maupun yang utuh) berdasarkan atribut kuat yang dimiliki, seperti glasir (teknik), bahan (stone ware) , bentuk (guci-tempayan), warna (coklat-kekuningan) dan pola hiasnya (hiasan naga) diperkirakan keramik dari Dinasti Ming (abad 15 M).  Sementara berdasarkan bentuk dan pola hias gerabah yang ditemukan di gua Tengkorak I (tumpal, garis geometris, spiral dan bulatan) memiliki persamaan dengan pola hias gerabah yang ditemukan di situs lainnya, seperti di Sulawesi Selatan secara khusus maupun di daerah lain di Indonesia ataupun di Asia Tenggara. Selain bentuk tempayan, gerabah yang terdapat di situs ini merupakan jenis wadah periuk, bahkan ada sebagian yang memiliki jelaga (bekas pemakaian) serta sebagian memiliki slip (lapisan penutup pori) berwarna merah dan pembakaran yang cukup tinggi. Sementara temuan jenis kerang (molusca) berasal dari habitat laut (veneridae, dan gastropoda) dan habitat darat (potaminidae yang dominan dan beberapa jenis lainnya).

Adapun jenis temuan artefak logam dapat dikenali fungsinya berdasarkan bentuknya, yaitu gelang dan sejata tajam. Gelang yang ditemukan hanya 1 buah (tetapi dari info penduduk bahwa dulunya gelang seperti itu banyak sekali) memiliki patinasi (lapisan karat) berwarna hijau, sehinngga dapat dipastikan menggunakan bahan perunggu dan artefak senjata yang berkorosi coklat kemungkinan dibuat dari bahan besi. Jika berdasarkan temuan kerang yang jumlah sangat banyak, khusunya dari spisies potaminidae dan veneridae meneberi petunjuk bahwa kemungkinan sebelum gua ini difungsikan sebagai tempat penguburan adalah tempat bermukim oleh komunitas`manusia dan dari masa tertentu. Kerang tersebut kemungkinan sebagai sampah makanan dan fragmen gerabah kemungkinan wadah yang dipakai untuk memasak.

Kondisi situs ini sekarang sangat memprihatinkan, sebab sebagian besar wadah keramik dan tempayan beserta bekal kuburnya sudah dijarah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Namun sebagian dari temuan arkeologi dari situs ini masih tersimpan disalah satu rumah penduduk Wiwirano, seperti guci keramik, patungpatung tanah liat dan beberapa artefak logam. Hal ini diperparah lagi dengan adanya vandalisme yang terdapat pada dinding gua dan sisasisa pembakaran untuk memasak dari orangorang yang berkebun di sekitar gua.

             

Gua Tengkorak II

Memiliki dua buah lantai dengan orientasi mulut menghadap ke baratdaya. Letak gua ini masih satu gugusan dengan gua Tengkorak I dengan titik koordinat 03˚ 12’ 19,5” Lintang Selatan dan 122˚ 07’ 53,3” Bujur Timur.

Lantai 1 merupakan ceruk yang memanjang dari timur ke barat dengan panjang ± 30 m. Lantai gua memiliki ketinggian ± 3 m dari tanah perkebunan penduduk dan dibatasi oleh batu gamping yang merupakan jatuhan dari tebing batu karst. Disepanjang lantai gua terdapat sebaran kerangkerangan terutama dari spesies potaminidae. Dinding gua banyak ditumbuhi oleh lumut karena kelembabannya yang tinggi walaupun intensitas cahaya cukup terang. Dibandingkan dengan lantai 1, lantai 2 gua ini merupakan aula yang berukuran panjang 8 m, lebar 6 m dan tinggi 9 m dan memiliki satu buah lorong yang mengarah ke utara. Jumlah ornamen guanya lebih sedikit dibandingkan dengan gua tengkorak 1 serta intesitas cahaya dalam gua relatif cukup. Ketinggian mulut gua lantai 2 dari permukaan tanah disekitarnya adalah ± 16 meter atau sekitar 65 meter di atas permukaan laut.

Jenis temuan pada lantai 2 tersebut didominasi oleh  pecahan gerabah berbagai ukuran yang terkonsentrasi di sebelah utara dan barat lantai gua. Temuan lain berupa  alat batu-serpih (1 buah), fragmen logam, kaki patung tanah liat bakat, kerang, cincin yang diduga terbuat dari bahan tembaga dan fragmen tulang yang diduga adalah tulang manusia.

Sementara lantai 1 Gua Tengkorak 2 berada diketinggian ±3 M dari permukaan tanah disekitarnya. Gua ini sebenarnya hanya ceruk yang memanjang dari Timur-Barat dengan ukuran panjang sekitar 30 meter dengan permukaan lantai yang relatif datar. Pada permukaan lantai 1 juga terdapat bongkahan gamping yang merupakan runtuhan stalagtit atau stalagmit. Indikator arkeologis pada permukaan gua, antara lain fragmen kerang (dominan), tulang (sedikit), alatalat batu (serpih dan beliung), frgamen gerabah. Sebaran temuan pada lantai gua hampir menjangkau seluruh permukaannya. Tampaknya temuan arkeologis di permukaan gua ini sudah terjadi percampuran, antara temuan arkeologis yang berkonteks dengan tradisi penguburan dengan temuan arkeologis yang berkonteks dengan pemukiman sebelumnya. Dugaan ini dikuatkan oleh keberadaan temuan alatalat batu beserta batu inti dan limbahnya yang memberi petunjuk tentang adanya aktivitas pembuatan alat batu di gua ini.

 

Gua Tengkorak III

Letaknya masih satu gugusan dengan gua Tengkorak I dan II atau berada di sebelah timurlaut dengan jarak kurang lebih 400 meter dari gua Tengkorak II. Gua ini berada +30 meter di atas gua Tengkorak II dan merupakan gua vertikal yang memiliki ruang cukup luas (7 X 8 meter) dan dihubungkan dengan beberapa lorong sempit. Sama halnya dengan gua Tengkorak I dan II (lantai 2) gua ini juga dipakai sebagai tempat menyimpan mayat dengan wadah tempayan gerabah atau guci stone ware. Selain fragmen gerabah dan keramik (cukup banyak berserakan) yang ditemukan dipermukaan  juga ada tulangtulang dan tengkorak manusia  yang  berserakan.

Ornamen gua yang dijumpai di dalam gua terdapat disepanjang lorong gua dan masih aktif sampai sekarang. Jenis ornamen berupa stalagtit, stalagmit, pilar, kanopi, gordam,  flowstone (tirai batu) dan ornamen batu karang. Diantara mulut gua yang satu dengan lainnya terdapat aula yang menghubungkan antar keduanya yang dipenuhi dengan ornamen gua dan memliki lantai dari batu karst. Gua ini memiliki tiga buah lorong vertikal karena letaknya yang berada diketinggian. Di sekelliling gua merupakan hutan dari tanaman keras yang tumbuh di celahcelah batu gamping.

 

 

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas