.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Kompleks Makam Ondongan

Sabtu, 21 Mei 2016

Administrator

Islam

Dibaca: 434 kali

Kompleks makam raja-raja Ondongan termasuk ke dalam wilayah administratif Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene terletak pada posisi koordinat 03˚32.51,3ʹ Lintang Selatan dan 118˚57.44,1ʹ Bujur Timur. Keberadaannya mudah dijangkau karena termasuk dalam wilayah kota Majene yaitu berada pada ketinggian kurang lebih 35 meter di atas permukaan laut di atas bukit tepi pantai Kota Majene.

Di dalam Kompleks Makam Ondongan dengan luas 1,6 Ha atau 10.589m2 terdapat 593 makam dengan berbagai bentuk dan ukuran bahkan juga nisan dari bahan yang bervariasi (batu padas, andesit dan kayu). Tidak seperti kompleks makam lainnya, makam-makam raja Ondongan terletak dekat sekali dengan selat Makassar, tepatnya di tebing panta. Sedangkan di bagian barat laut berupa perkampungan dan perbukitan. Orientasi makam antara 310º-350º dari utara (N310˚-350˚E). Tipe jirat berupa monolit dan pasang-sambung. Dari jumlah makam yang ada, berhasil didata 95 makam sebagai tipe monolit. Jirat monolit umumnya polos, bertingkat 2 atau 3 dan beberapa di antaranya tanpa gunongan. Hiasan yang ada meliputi motif bunga dan bentuk-bentuk geometris. Jirat dengan tipe pasang sambung dibuat bertingkat dari 1-5 dan selalu dilengkapi dengan gunongan. Dengan motif yang hampir sama dengan tipe monolit, pola hias umumnya diukir pada bagian atas jirat dan gunongan. Jumlah jirat semacam ini yang berhasil dicatat adalah 88 makam. Dibawah ini diuraikan komposisi tipe jirat beserta ukuran terbesar dan terkecil.

 

Bentuk Bangunan Makam

Bentuk bangunan-bangunan yang ada di dalam kompleks peninggalan raja-raja Banggae di Ondongan terbuat dari bahan batu utuh, jenis batuan kapur, batu sedimen dan kayu, jika ditinjau dari segi bentuk dan teknis pembuatannya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Makam yang dibuat dengan bentuk persegi panjang dari papan batu yang ditopang dari bawah keatas empat atau lima batu buah papan batu sehingga bertingkat empat dan lima yang semakin keatas semakin kecil. Papan batu berfungsi sebagai pengikat adalah papan batu di bagian bawah, penampil dan papan batu bagian atas. Bentuk makam nisan ditancapkan pada lobang bahagian tengah puncak makam. Bentuk makam terbagi dua yaitu setiap sisi lebar bahagian sudut makam agak menonjol keluar sedang yang lainnya tidak demikian, pada setiap nisan terbuat dari batu dan kayu.
  2. Makam yang terbuat dari batu utuh, dipahat sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan sehingga menyerupai bentuk makam dengan cara pembuatan dari papan batu serta bertingkat-tingkat semakin keatas semakin kecil, dengan jumlah tingkatannya empat sampai lima tingkatan. Ditengah bahagian atas makam ada lobang sebagai tempat untuk menancapkan nisan. Pada setiap makam ada dua nisan yang terbuat dari batu bentukan yang sangat unik , karena makam tidak terlepas dari dengan nisan, satu batu utuh yang tidak terlepas dibentuk menjadi makam.
  3. Peti batu, teknis pembuatannya yaitu batu utuh yang dibentuk segi empat panjang. Sisi panjang dan sisi lebar agak melengkung ke dalam dan di tengah tubuh makam ada lobang sebagai tempat untuk menancapkan nisan.

 

Tipe Nisan

Nisan adalah merupakan bagian dari batu jirat yang ditempatkan diatas makam yang ditancapkan dengan tegak pada bahagian utara dan selatan makam. Karena itu pada kompleks makam peninggalan raja-raja Banggae di Ondongan terdapat dua nisan setiap makam dan terdiri dari beberapa ragam hias dan tipe.

  1. Tipe gada
  2. Tipe gada merupakan tipe yang paling dominan, bentuknya bulat dan bagian atasnya lebih besar dari bagian bawah, pada bagian atas yang lebih besar terdapat ukiran-ukiran. Tipe gada masih memiliki variasi-variasi bentuk yaitu berbentuk mahkota pada bagian puncak nisan.
  3. Tipe hulu keris, di dalam kompleks makam peninggalan raja-raja Banggae di Ondongan juga terdapat tipe hulu keris yaitu berbentuk hulu keris yang agak pipih dan berukir, namun ada pula yang tidak tampak ukirannya.
  4. Tipe pipih terbuat dari kayu dan sebagian terbuat dari batu. Pada umumnya nisan tipe pipih ukirannya sangat padat dengan pola hias sulur-suluran yang merambat .

Nisan-nisan pada Kompleks Makam Ondongan terdiri atas 5 tipe, yaitu pipih A, pipih B, balok C, balok D dan segi 8 B. karakter nisan pipih A, pipih B dan segi 8 B secara umum tidak jauh berbeda dengan yang terdapat pada situs lain. Yang menarik adalah dijumpainya nisan dengan karakter yang belum pernah dijumpai di situs lain. Nisan-nisan yang dimaksud memiliki bentuk dasar balok dan karena terdapat atribut kuat yang dapat dijadikan dasar untuk membedakannya, maka nisan-nisan tersebut dikelompokkan ke dalam 2 tipe yaitu balok C dan balok D.  nisan dengan tipe balok C pada dasarnya sama dengan segi 8 B, perbedaannya hanya pada bentuk dasarnya yaitu balok. Adapun tipe nisan balok D merupakan bentuk dasar balok dan cenderung tidak berprofil (lurus). Ciri yang lain adalah bentuk segitiga atau tumpa-tumpal polos pada setiap sisi yang terdapat setelah pembatas bawah maupun atas.

Pada beberapa nisan tertera inskripsi baik yang berhuruf Arab maupun lontarak. Inskripsi yang berhuruf Arab ditulis pada nisan dengan teknik ukir, sedangkan lontarak dengan teknik gores. Dari hasil pembacaan pada nisan tipe pipih B dari bahan kayu yang berhuruf Arab berupa kalimat syahadat, sedangkan pada nisan yang lain terbaca beberapa kata Allah dan Muhammad. Selain pada nisan, inskripsi berhuruf Arab juga dijumpai pada gunongan yang terbaca Muhammad –Adam-Muhammad-Allah-Illahi.

Inskripsi yang berhuruf lontarak terdapat nisan kayu dan terbaca kuburu’na idala ana’na puang pancajingengi imaragalahidratunabi 1210. dari inskripsi ini dapat diketahui bahwa makam tersebut adalah tempat dikuburnya Idala yang merupakan anak yang melahirkan Imaragala. Angka tahun yang tertera di atas sama dengan tahun 1789 Masehi.

 

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas