.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Situs Makam Todilaling

Sabtu, 21 Mei 2016

Administrator

Islam

Dibaca: 666 kali

Kompleks Makam Todilaling berada di Desa Napo Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali dan merupakan makam raja pertama Kerajaan Balanipa. Letak astronomi situs ini yaitu S. 03°28’10,4” dan E. 119°02’13,6” dengan ketinggian 237 meter diatas permukaan laut. Kini makam ini tidak lagi begitu tampak, kecuali batu nisan yang terhimpit di antara akar pohon beringin. Untuk mencapai kompleks makam ini perjalanan bisa dimulai dari ibukota Polewali menuju kearah barat Kecamatan Balanipa sekitar 30 Km lalu di Daerah Layonga, berbelok kearah utara menuju puncak bukit Napo sepanjang 3 Km. Diatas puncak bukit Napo dan dibawah naungan rindangnya pohon beringin itulah raja pertama Balanipa dimakamkan. Konon di tempat makam itu pula dikebumikan beberapa dayang-dayang dan penari serta beberapa penabuh gendang yang dengan setia menyertai raja pertama Balanipa itu kedalam liang lahat, sebagai bukti kesetiaan. Nisan makam terbuat dari batu monolit tidak distilir, orientasi makam Timur-Barat yang berindikasi bahwa Raja tersebut belum memeluk agama Islam.

Indikasi arkeologi lainnya yang dijumpai di situs ini berupa fragmen tembikar, keramik, tulang, dan fragmen kerang. Temuan tersebut memberi petunjuk bahwa sebelum situs ini menjadi lokasi penguburan terlebih dahulu menjadi lokasi pemukiman dari satu komunitas manusia. Hal ini, diperkuat melalui data naskah dan  informasi masyarakat setempat bahwa pusat kerajaan Balangnipa Kuno serta Istana Raja terdapat di situs ini. Khusus temuan keramik berdasarkan atribut kuat yang dimiliki sehingga dapat dikenali bentuk dan dinastinya yaitu mangkuk dan piring yang berasal dari Dinasti Yuan (abad 13-14 M), Ming (abad 16M) dan Dinasti Ching (abad 17-18 M). Vegetasi di sekitar situs berupa jati, beringin, asam, kelapa, dan beberapa tumbuhan yang dibudidaya oleh masyarakat sekitar, seperti coklat, bawang, pisang. Lingkungan sekitar situs dilingkupi oleh gugusan pegunungan dan lembah serta laut yang merupakan salah satu potensi yang memungkinkan situs tersebut dikembangkan sebagai objek wisata budaya.

Situs ini telah terdaftar sebagai Benda Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Sulawesi Selatan, Tenggara, Tengah dan Barat, dan tahun 2008 Balai Arkeologi Makassar telah mengadakan penelitian berupa ekskavasi pada beberapa titik disekitar areal penguburan. Hasil sementara yang diperoleh menguatkan dugaan bahwa situs tersebut sebagai pemukiman sekaligus penguburan, khusus fragmen tulang manusia (diantaranya gigi) yang ditemukan dalam penggalian berasosiasi dengan sisa-sisa pembakaran berupa arang serta pecahan gerabah dan keramik memberi petunjuk yang mengarah kepada sistem penguburan kremasi (Pra Islam).

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas